Ketika Cinta Bertasbih 1| Menjual Panorama Mesir

poster-ketika-cinta-bertasbih1

Ketika Cinta Bertasbih langsung dibuka tidak dengan dialog apa, atau kejadian apa, atau dengan adegan-adegan apa, tapi dengan menampilkan panorama-panorama Mesir. Saya merasa malah sang pembuat film ingin menunjukan banget, ini loh Mesir. Asli loh kita syuting di Mesir.

Sampai pada akhirnya adegan pertama sampai pada adegan-adegan lainnya, tampak sekali sang sutradara ingin menunjukkan dengan keindahan Mesir dengan adegan yang berganti-ganti background seperti kota Kairo, patung Pyramid, Sphinx, sungai Nil, kota Alexandria, Benteng Qait Bay dan lain-lain.

Adegan pertama diceritakan Azzam dengan kesibukannya membuat tempe. Dan akhirnya lambat laun cerita berlanjut kepada tokoh-tokoh lainnya. Maaf, untuk review film KCB ini, saya lebih ingin berbagi kesan saja, untuk sinopsisnya silahkan cari saja, banyak koq yang mengulasnya.

Saya sengaja tidak membaca novelnya, karena pengalaman saya pada film yang diangkat dari novel kang Abik terdahulu (Ayat-Ayat Cinta), saat nonton filmnya selalu terbayang-bayang dengan novelnya, jadi secara langsung saya pasti membanding-bandingkan dengan novelnya. Dan untuk film Ketika Cinta Bertasbih ini, saya tidak akan membandingkan dengan novelnya.

Baiklah, untuk pandangan mata yang sekilas, film ini sangat luar biasa indahnya. Karena, seperti telah saya utarakan di awal, film ini sangat banyak menampilkan pemandangan-pemandangan indah di kota-kota Mesir. Secara berani bisa saya katakan, film ini menjual banget panorama Mesir. Kesempatan pertama untuk film Indonesia yang syuting di Mesir, membuat Chaerul Umam beserta kru film lainnya sengaja memamerkan dan menjual kelebihan tersebut.

Sekarang mari kita berlanjut pada akting-akting pemainnya.

Abdullah Khairul Azzam diperankan Kholidi Asadil Alam

Tak heran jika melihat segudang prestasi pemuda dari Pasuruan ini yang segudang. Aktingnya pas, menjiwai sekali dan cocok sekali memerankan tokoh Azzam yang ulet dan tekun serta taat pada agama serta sayang keluarga. Kholidi memerankannya sangat apik. Untuk film pertamanya, saya rasa Kholidi sangat berhasil.

Anna Althafunisa diperankan Oki Setiana Dewi

Jika di Ayat-Ayat Cinta tokoh pria yang jadi rebutan, kalo di KCB justru sebaliknya. Tokoh wanita yang diperankan Oki sebagai Anna jadi rebutan para pria yang tidak sembarangan. Tak jauh beda dengan akting Kholidi, akting Oki juga bagus, apalagi ini juga film pertama gadis yang juga banyak prestasinya ini.

Eliana Pramestya Alam diperankan Alice Sofie Norin

Yang ini sudah tidak bisa diragukan lagi. Untuk memerankan sebagai Eliana yang tak lain adalah putri Dubes yang cantik pintar dan bebas, sangat berhasil diperankannya. Ini mungkin karena Alice memang sudah beberapa kali jadi bintang utama di sebuah sinetron di televisi.

Furqon diperankan Andi Arsyil Rahman

Ini dia pemain yang menurut saya cukup lemah aktingya. Untuk kelihatan sebagai Furqon yang lebih tua dari umurnya, tampan, pintar dan royal saya melihat sangat berhasil. Tapi, kalau melihat dialog-dialognya serta ekspresinya, kadang kurang meyakinkan. Lihat saja adegan dimana dia saat bertemu Azzam di pameran masakan Indonesia. Koq lebay sih?

Ayatul Husna diperankan Meyda Sefira

Aktingnya sih bagus, Tapi, saya melihat tokoh ini malah terkesan hanya berperan sebagai bintang iklan. Bagaimana tidak, banyak adegan yang perannya tak ada bedanya sebagai bintang iklan dari sponsor di film ini. Sebagai bukti, di beberapa adegan dia selalu naik sepeda motor, persis seperti adegan iklan yang biasanya ada di setiap jeda iklan sinetron di televisi. Seperti hal lainnya, dia menyebut nama merk motor di sebuah suratnya, dan juga kata-kata mobile banking di dialognya, yang tak lain ada sponsor bank di film ini.

Untuk pesan moral, sudah tidak bisa dipertanyakan lagi. Film yang memang berniat berdakwah ini banyak pesan moral yang disisipkan di film ini. Seperti harus sayang pada keluarga seperti Azzam, tidak boleh terlalu royal seperti Furqon, ridak boleh terlalu bebas seperti Eliana, dan lain-lain sebagianya.

Terus terang, saya tidak melihat kejutan-kejutan di film yang berdurasi 2 jam ini. Semua adegan-adegan di film ini nampak datar-datar saja, tidak ada adegan yang bisa membuat penonton bergejolak. Tidak ada konflik yang bisa diangkat sebagai adegan yang menarik. Pernah sih ada adegan yang sedikit membuat terkejut, seperti konflik pada saat tokoh Furqon difitnah dan diperas oleh cewek yang bernama Italiana. Sebenarnya ini bagus, sayang sang sutradara tidak terlalu memperpanjang pada adegan ini. Mungkin ini dikarena masalah pada tokoh pembantu ya, bukan pada tokoh utamanya, Azzam.

Kesalahan besar film Ketika Cinta Bertasbih adalah keberanian dalam memenggal 1 film menjadi 2 film. Dengan kata lain film ini bersambung dan tak tuntas di seri pertama. Jadi penonton sengaja dibuat penasaran dan ingin menonton di film berikutnya, yakni Ketika Cinta Bertasbih 2. Saran saya, harusnya film ceritanya tuntas setiap cerita di setiap serinya. Seperti halnya film-film sekuel lainnya. Yang setiap serinya pasti lengkap dengan konflik, klimaks dan anti klimaksnya. Tidak seperti film ini, yang saya melihat justru di seri pertama hanya sebagai pembukaan saja, konflik besarnya malah di simpan di seri yang kedua, begitu juga dengan klimaks dan anti klimaksnya.

Adegan yang paling tidak saya suka dan menurut saya lebay benget adalah di saat bertemunya Azzam dengan Furqon di pameran masakan Indonesia yang ditampilkan dengan backgroud awan yang kelihatan sekali editannya.

Di luar kekurangan-kekurangan yang telah saya sebutkan di awal, film KCB ini punya nilai lebih pada adegan-adegan yang diperankan peran pembantunya. Dan juga sangat banyak sekali adegan-adegan yang sangat bisa membuat penonton tak kuasa menahan tawa. Dari segi humor, film ini sangat berhasil.

Kelebihan lainnya adalah pada musik latarnya, yang walaupun sampat telat pada saat adegan Azzam dinyatakan lulus. Musik yang mengiringi setiap adegan-adegannya selalu cocok. Dimana adegan sedih, terharu, bahagia, dan lain-lain sebagainya. Musiknya selalu cocok dengan setiap adegannya.

Kesimpulanya:

Jika anda sudah baca novelnya dan tidak terlalu suka menonton film, tidak usah dipaksakan untuk menonton filmnya. Karena firasat saya, novelnya akan jauh lebih memuaskan dibanding filmnya (walau pun saya belum baca novelnya). Terus terang jika dibanding dengan Ayat-Ayat Cinta, setelah nonton, AAC jauh lebih memuaskan dibanding KCB. Tapi, jika masih penasaran ingin melihat Mesir seperti apa, silahkan antri di bioskop-bioskop kesayangan anda. Karena KCB menyajikan Mesir yang indah.

Keterangan Film:

Jenis Film : Drama | Produser : Mitzy Christina, Cindy Christina | Produksi : Sinemart Pictures | Durasi : 120

Pemain : Kholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, Alice Norin, Andi Arsyil Rahman, Meyda Safira, Deddy Mizwar, Ninik L. Karim, Didi Petet, Habiburrahman El Shirazy, Aspar Paturusi, Prof.dr. Din Syamsudin, Slamet Rahardjo, El Manik

Sutradara : Chaerul Umam |Penulis : Imam Tantowi

Gambar di atas saya ambil di sini

VN:F [1.9.22_1171]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
Comments
  1. 5 years ago
  2. 5 years ago
  3. 5 years ago
  4. 5 years ago
  5. 5 years ago
  6. 5 years ago
  7. 5 years ago
  8. 5 years ago
  9. 5 years ago
  10. 5 years ago
  11. 5 years ago
  12. 3 years ago
  13. 3 years ago
  14. 3 years ago
  15. 3 years ago

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>