Bagaimana Musisi di Kemajuan Teknologi Digital?

Apakah musisi masih bisa hidup di era transisi dan kemajuan teknologi digital? Pertanyan besar ini yang didiskusikan oleh Widi Asmoro pengajar di kelas Akademi Berbagi Surabaya yang diselenggarakan di Brew & Co Surabaya Town Square Sabtu 21/4 jam 17.00 kemaren.

Ini diambil setelah kelas, bukan sebelum :)

Owh masih ada yang belum tahu Akademi Berbagi ya? Ok Rusa perkenalkan dulu apa itu Akademi Berbagi atau yang biasa kita sebut Akber. Akber adalah gerakan sosial yang rajin berbagi pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang bisa diaplikasikan langsung. Bentuknya adalah kelas-kelas pendek yang diajar oleh para ahli dan praktisi di bidangnya masing-masing. Kelasnya pun berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan ruang kelas yang disediakan oleh para donatur ruangan.

Lahir di Jakarta kelas perdana di bulan Juli tahun 2010, kini Akber sudah tersebar di lebih 30 kota di Indonesia, mulai Medan, Palembang, Jambi, Bandung, Solo, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Malang, Balikpapan, Makassar, Ambon, Ende, Madiun sampai Madura dll. Dan tentunya semua kelas di kota-kota itu bersifat gratis dan terbuka untuk umum. Guru dan relawannya pun tak dibayar. Keren memang ya, kita bisa belajar ilmu kepada orang yang kompeten di bidangnya dengan cara gratis.

Widi Asmoro menjelaskan perkembangan musik Indonesia

Karena gak muncul di foto di atas, ini dia Rusa di kelas :D

Di Surabaya sendiri, Akber Surabaya udah eksis sejak setahun lalu, dan Rusa udah mengikuti beberapa kelasnya *Rusa ikutan eksis jadinya* sebut saja kelas Advertising dengan guru Handoko H, kelas Social Media dengan guru Pungkas Riandika dan tentunya kelas yang baru di selenggarakan di Brew & Co kemaren, dll lupa kelas lainnya 😀

Kembali ke kelas Cinta Musik Indonesia, kelas kali ini adalah ngomongin tentang musik Indoensia di era digital seperti ini. Widi Asmoro guru yang merupakan Service manager di Nokia Entertainment, memulai kelasnya dengan menjelaskan sejarah lahirnya musik dunia mulai masuk dan perkembangannya di Indonesia. Beliau ini memulai dengan menjelaskan fakta-fakta sejarah seperti Thomas Edison yang menemukan phonograph pada 6 Desember 1877, lahirnya Juke Box yang ditemukan oleh Lewiss Glass pada tahun 1889 hingga pada rekaman streo dan Long Play pertama dijual pada 1958. Serta ditemukannya BASF polyester 1/8 inch tape pada 1963. Widi menjelaskan lagi tahhun 1982 audio digital 5-inch CD disk pertama dipasarkan dan tahun 1997 adalah tahun di mana situs mp3.com dibuat bulan November oleh Michael Robertson. Sampai pada akhirnya tahun 2001 muncul Nokia 5510 ponsel yang didedikasikan khusus untuk musik.

Beginilah alur industri musik Indonesia

Bagaimana musik berkembang di Indonesia? Yuk simak

  • Pembuatan piringan hitam di Indonesia mulai pada akhir 1920.
  • Tahun 1957 piringan hitam long play diproduksi oleh Irama Record.
  • Awal tahun 1940 tiga ragam musik yang utam dan berkembang di Indonesia adalah Keroncong, Gambus, dan Hwaiian ditambah musik semi klasik dan klasik dari orkestra yang disukai Belanda dan kalangan elit bumiputra.
  • Awal 1950 bangkitnya musik hiburan, di masa ini lagu-lagu pop menjadi lini terdepan.
  • Awal 1960 pengaruh barat makin terasa terhadap musik Indoensia, artis terkenal pada masa itu adalah Titik Puspa, Rahmat Kartolo, Lilis Suryani.
  • Pemunculan record label di Indonesia dimulai tahun 1954
  • Indonesia absen dalam penandatanganan perlindungan hak cipta “The Berne Convention” tahun 1971.
  • Munculnya kompilasi lagu-lagu Barat yang di produksi oleh Hins Collection pada tahun 1969.
  • Pada tahun 1985, industri rekaman Indonesia mendapat kecaman dari Internasional.

Setelah menjelaskan bagaimana perkembangan musik jaman dulu, Widi mulai masuk ke bagaimana perkembangan musik di era perkembangan teknologi. Widi menjelaskan bahwa perkembangan musik sejalan dengan kemajuan teknologi. Musik erat berhubungan dengan kemajuan teknologi. Awalnya musik hanya dapat dinikmati ditempat pertunjukan/peribadatan. Sampai ditemukan teknologi Phonograph 1877 oleh Thomas Edison, lalu Radio, hingga perkembangan Vinyl, Kaset, CD dan Internet/Digital saat ini.

Kemajuan teknologi yang mengakibatkan maraknya ilegal download adalah realita yang harus dihadapi para musisi, tinggal bagaimana caranya memutar otak untuk bisa mempertahankan profesi sebagai ‘musisi’. – Astrid Sartiasari, Musisi.

Dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, di mana para peserta kelas sangat antusias tanya mengenai musik Indonesia. Ada yang tanya tentang bagaimana cara menembus kontrak rekaman, pembajakan, tentang RBT, kenapa musisi yang terkenal di luar negeri, tapi malah tidak di negeri sendiri. Sampai mengenai portal musik Indonesia.

Selesai acara wajib foto bersama

Nokia sendiri mengeluarkan portal musik di music.ovi.com/id di mana bisa gratis download dari PC atau ponsel. Disebutkan oleh Widi bahwa layanan Nokia Music menawarkan cara baru bagi konsumen untuk menemukan dan mengunduh musik dengan mudah di mana saja dan kapan saja, yang tentunya secara total mengubah pengalaman mereka dalam menikmati musik.

Di era digital begini, di mana sangat gampang sekali mendowload mp3 bajakan di internet, berapa CD musik yang masih kamu beli originalnya? atau masih adakah di antara kalian yang  beli CD original musisi Indonesia? Pertanyaan pertanyaan itu tiba-tiba dilempar oleh Widi kepada peserta yang hadir, eh dan Rusa cuma jawab dalam hati, dalam bulan ini Rusa gak beli CD original musisi Indonesia, tapi dapat gratisan dari gerai ayam goreng, hehehe.

Dan pertanyaan terakhir muncul “Bagaimanakah cara download gratis, tapi resmi?” Jawabannya mungkin bisa ditemukan di #CintaMusikIndonesia.

Foto by Ceps Kaskus.

Share yuuk..
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

66 Comments - Add Comment

Reply


9 − two =