Visit Bawean #4: Bawean, Pulau Perawan yang Menawan

Perjalanan ke Pulau Bawean bisa dibilang adalah sebuah rentetan kebetulan. Sekitar 2 minggu sebelum hari H, kebetulan secara iseng saya mengajak seorang teman untuk nge-trip ke Bawean. Kebetulan juga ada request dari seorang kenalan untuk mengadakan trip ke Bawean. Dan kebetulannya lagi, ada ajakan survey dalam rangka membantu pariwisata setempat untuk event “Ekspedisi Bawean” yang rencananya diadakan bulan Oktober 2014. Semua fasilitas disediakan gratis, kecuali tranportasi kapal PP Gresik – Bawean. Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan ajakan tersebut.

Bawean, pulau di utara Jawa Timur yang sudah sejak tahun lalu ingin saya kunjungi namun selalu tertunda. Bagi yang belum tau, pulau ini terletak di tengah Laut Jawa dan termasuk dalam Kabupaten Gresik. Dari Surabaya, bisa ditempuh dengan berkendara selama 1 jam menuju Pelabuhan Gresik, kemudian dilanjutkan dengan menyeberang menggunakan kapal Express Bahari 1C selama 3,5 jam. Selain kapal Express Bahari 1C, alternatifnya adalah menggunakan kapal ferry selama 8 jam! Opsi lain yang lebih praktis adalah dengan pesawat dari Surabaya. Tapi itu nanti ketika bandara di Bawean sudah jadi, karena sekarang sedang dalam proses pembangunan.

Pulau Bawean berada di tengah-tengah laut Jawa

Pulau Bawean berada di tengah-tengah laut Jawa

Ternyata bulan September bukan waktu terbaik untuk datang ke Bawean. Ombaknya cukup besar. Selama 3,5 jam kami terguncang-guncang di dalam kapal. Mabuk laut tidak dapat dihindari. Tapi menurut kata pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Di balik perjalanan yang menyusahkan, biasanya ada keindahan di baliknya. Dan benar saja, sesampainya di Pelabuhan Bawean kami disambut langit yang cerah, hamparan lautan biru, serta pulau berbukit-bukit hijau yang menyejukkan mata.

Karena minimnya informasi tentang Bawean, bertandang ke sana tanpa bantuan penduduk lokal memang agak menyusahkan. Untungnya teman sekaligus partner kerja saya, Indra, adalah warga asal Bawean yang sudah bertahun-tahun tidak pulang ke kampung halamannya. Kami sangat terbantu oleh Indra yang menyediakan rumah keluarganya untuk diinapi. Bahkan kami diberi makan 3x sehari gratis! Bapak Dinas Pariwisata setempat pun membantu menyediakan transportasi lokal dan sewa kapal.

Pulau Bawean identik dengan rusa endemik pulau ini, yaitu Rusa Bawean (Axis kuhlii). Saat ini jumlah Rusa Bawean ini tersisa hanya 37 ekor dan terancam punah. Sebab itulah dibuat penangkaran Rusa Bawean untuk menjaga kelestarian mereka. Rusa-rusa diletakkan di dalam kandang yang terletak di tengah-tengah perkebunan luas yang dikelilingi hutan dan perbukitan hijau. Saat berkunjung, pengunjung dianjurkan tidak membuat kegaduhan ketika mendekati kandang agar rusa-rusa tersebut tidak berlarian. Maklum, mereka cenderung masih liar.

Rusa Bawean di Panangkaran Boto Ghebbhang

Rusa Bawean di Panangkaran Boto Ghebbhang

Salah satu tempat yang unik di Bawean adalah Jharat Lanjhang alias kuburan panjang. Menurut penduduk setempat, kuburan dengan panjang sekitar 12 meter ini ada hubungannya dengan cerita huruf Jawa, yaitu Ha Na Ca Ra Ka. Konon, orang Bawean jaman dulu bertubuh sangat tinggi, sehingga kuburannya bisa sepanjang itu. Takut datang ke kuburan? Tenang saja, tidak ada kesan mistis di sini karena lokasinya menghadap ke pantai dengan pemandangan sunset yang mempesona.

Kuburan Panjang di Jharat Lanjhang

Kuburan Panjang di Jharat Lanjhang

Sunset di pantai Jharat Lanjhang

Sunset di pantai Jharat Lanjhang

Pantai adalah objek yang pasti dicari jika kita bepergian ke pulau. Jangan khawatir, Bawean punya pantai-pantai berpasir putih yang sangat cantik. Pulau utama Bawean dikelilingi oleh beberapa pulau-pulau kecil, seperti Pulau Selayar, Pulau Gili (Timur), Gili Barat, Noko Selayar, Noko Gili, Pulau Cina, Pulau Nusa dan lain-lain. Pulau Selayar adalah pulau tak berpenghuni yang bisa dicapai dengan berjalan kaki jika air sedang surut. Sedangkan untuk menuju Noko Selayar dan Noko Gili (Timur), kita harus menyeberang menggunakan perahu sewaan.

Pulau Selayar, kalau lagi pasang, bisa ditemuh dengan jalan kaki ke pulau ini dari Bawean

Pulau Selayar, kalau lagi pasang, bisa ditemuh dengan jalan kaki ke pulau ini dari Bawean

Laut biru dan pasir putih di sekitar Pulau Selayar

Laut biru dan pasir putih di sekitar Pulau Selayar

Ini dia Pulau Noko Selayar, ulau yag berdeatan dengan Pulau Selayar

Ini dia Pulau Noko Selayar, ulau yag berdeatan dengan Pulau Selayar

Noko Selayar berupa gusung atau atol dengan semacam laguna di tengah-tengahnya

Noko Selayar berupa gusung atau atol dengan semacam laguna di tengah-tengahnya

Bawean punya satu-satunya danau yang terletak di tengah-tengah pulau. Danau Kastoba namanya. Dibutuhkan trekking sekitar 500 meter untuk mencapai danau. Ada mitos di Danau Kastoba, yaitu wanita yang sedang menstruasi dilarang datang ke sini jika tak ingin terkena bencana atau musibah. Namun terlepas dari cerita-cerita mistisnya, suasana danau ini sangat sejuk dan teduh karena dikelilingi pepohonan hijau. Untuk menikmati danau, pengunjung biasanya memancing sembari piknik dan bakar-bakar ikan. Bahkan kami sempat kebagian 2 ikan bakar dari rombongan asal Gresik yang kebetulan datang ke danau berbarengan dengan kami.

Danau Kastoba yang berad di tengah-tengah Pulau Bawean

Danau Kastoba yang berad di tengah-tengah Pulau Bawean

Bandara Bawean yang belum selesai dibangun juga bisa dijadikan objek wisata yang menarik lho. Selain pemandangan sunset yang cantik, kita juga bisa berfoto di landasan pacu tanpa takut diseruduk pesawat. Hihihi. Bandara ini tak kunjung jadi sejak 2 tahun lalu. Katanya sih karena dananya dikorupsi oleh Pemerintah. Konon akan dibuka bulan Oktober 2014. Doakan saja ya, karena dilihat dari keadaan di lapangan saat itu, bandara belum siap dibuka dalam waktu dekat. Akses jalan masih belum dibenahi, bahkan menara pengawas pun tak ada.

Runway Bandara Bawean

Runway Bandara Bawean

Sunset di Bandara Bawean

Sunset di Bandara Bawean

Tempat berikutnya adalah tempat favorit kami. Ada namanya sih, tapi kami lebih suka menyebutnya sebagai “Toni’s Stone Hill” (Toni adalah saudara sepupu Indra. Dia yang mengetahui keberadaan tempat ini. Hihihi). Untuk menuju tempat ini butuh perjuangan yang lumayan. Blusukan naik motor, trekking melalui hutan, kemudian mendaki bukit karang. Medannya yang berupa bebatuan tajam cukup membuat stress saya yang tidak suka kegiatan daki-mendaki. Tapi sesampainya di atas bukit, semua kelelahan terbayar. Kita bisa melihat pemandangan tebing-tebing karang yang mengagumkan serta lautan yang penuh hamparan terumbu karang. Dan tak lupa, sunset yang cantik.

Ini dia Toni’s Stone Hil atau nama sebenarnya Tanjung Ghaang

Ini dia Toni’s Stone Hil atau nama sebenarnya Tanjung Gaang

Sisi barat Tanjung Gaang

Sisi barat Tanjung Gaang

Keadaan bawah laut di Pulau Bawean juga tidak kalah cantik lho dengan pemandangan atas lautnya. Sayang tidak ada bukti foto karena kamera kami yang rusak. Tapi memang keindahan Bawean tidak perlu diragukan. Sayangnya, penduduk di sana belum sadar akan potensi pariwisata pulaunya. Mereka sudah cukup makmur dengan penghasilan sebagai pelaut, sehingga pariwisata dianggap bukan hal yang “menghasilkan” di sana. Fasilitas dan infrastruktur pun belum menunjang. Padahal Bawean punya potensi besar menjadi idola pariwisata Jawa Timur. Danau, bukit, air terjun, pantai pasir putih, bahkan pemandian air panas, semua ada di Bawean.

Karena merupakan pulau kecil dan termasuk pedesaan, penduduk di Bawean sangat guyub. Mereka suka berkumpul di dhurung (gazebo) yang dipunyai di depan tiap rumah. Penduduknya hampir selalu mengenal satu sama lain. Tiap malam kami selalu bercengkrama sambil makan bersama, disuguhi ikan bakar beserta sambal yang sangat lezat. Suasana kebersamaan dan keramahan penduduk itulah yang nantinya akan selalu kami rindukan. Terima kasih sekali untuk Indra, Toni, dan Tante Laili yang sudah menjamu kami. Memang selalu menyenangkan jika bisa berbaur dengan penduduk lokal.

Di sela perjalanan, kami juga sempatkan untuk datang ke SD setempat dan berbagi buku dalam rangka gerakan #1Traveler1Book. Bagi yang belum tahu, #1Traveler1Book adalah gerakan sosial para traveler untuk selalu membawa minimal 1 buku dan membagikannya kepada anak-anak usia sekolah yang dijumpai di perjalanan. Gerakan ini berguna untuk mencerdaskan anak-anak bangsa lho. Ikutan yuk!

#1Traveler1Book

#1Traveler1Book

Fakta Bawean:

  • Pulau Bawean disebut juga Pulau Putri, karena mayoritas lelaki merantau ke luar negeri sebagai pelaut. Sehingga lebih banyak wanita yang tinggal di Bawean.
  • 99% penduduk Bawean adalah penganut muslim yang taat. Hormati warga setempat dengan tidak memakai pakaian minim.
  • Hampir tidak ada kriminalitas di Bawean. Memarkir motor dengan kunci masih menggantung pun, motor tidak akan hilang!
  • Pulau Bawean ternyata tidak terlalu kecil. Untuk mengelilingi jalan lingkar luar pulau, butuh waktu sekitar 3 jam berkendara.
  • Bulan terbaik untuk ke Bawean adalah bulan April – Juni dan Oktober – Desember. Di luar bulan – bulan itu, sering kapal penyeberangan tidak bisa jalan karena ombak besar dan cuaca buruk.

Ditulis oleh: Intan Primadewati: Traveler dari Sidoarjo yang merupakan travel planer di Berangan Trip. Hampir semua tempat indah di Indonesia pernah dia kunjungi. Pengalaman jalan-jalannya bisa dibaca di blog travelnya http://intaninchan.wordpress.com sedangkan hasi jepretan dari setiap perjalanannya terekam di akun Instagram -nya @intan_inchan.  Intan bisa dihubungi melalui akun Twitter -nya @intan_inchan.

Semua foto hak milik Intan Primadewati, mohon izin langsung dengan bersangkutan jika ingin menggunakannya.

Visit Bawean adalah kolom untuk semua yang pernah mengunjungi Pulau Bawean, sebagai ajang untuk berbagi cerita pengalamannya mengunjungi Pulau Bawean. Pernah ke Pulau Bawean? Kirim tulisan beserta foto-fotomu melalui email ke mail@rusabawean.com.

Share yuuk..
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

5 Comments - Add Comment

Reply

Leave a Reply to wisata bromo Cancel reply


− two = 7