Putra Bawean Lebih Laku di Malaysia dan Singapura

Ada banyak komentar tak sedap di twitter ketika panas-panasnya pertandingan Sepak Bola Indonesia melawan Malaysia di final piala AFF, Komentar panas tersebut datang, tentang adanya pemain Malaysia yang merupakan keturuanan Bawean Gresik, bahkan orang tuanya masih berpaspor Indonesia. Para tweeps Indonesia tidak terima di saat kenyataannya ada pemain keturunan Indonesia di Malaysia. Ya, Jazuli mengaku bahwa dirinya adalah keturunan Indonesia.

Ternyata tidak hanya Jazuli, di negara tetangga lain, Singapura ada  Noh Alam Shah.  Ia mengawali karier sebagai pemain profesional pada tahun 1998 bersama tim Sembawang Rangers lalu hijrah ke Singapore Armed Force FC (SAFFC) kemudian kembali lagi ke tim semula. Pada tahun 2003 ia bergabung dengan tampines Rovers dan membantu memenangkan gelar liga dua tahun berturut-turut 2004 dan 2005. Pria yang akrab dipanggil Along ini pun dapat berdialog sedikit menggunakan Bahasa Bawean.

Nah, banyak pemuka Bawean yang bertanya kenapa kaki Bawean lebih laku di negara tetangga dari pada di negeri kita sendiri? kenapa tidak ada 1 pun yang membela negeri kita sendiri?

Seperti dikutip dari hasil wawancara Media Bawean, berikut penuturan pemuka Bawean yang berhasil diwawancarai oleh Media Bawean:

Ramali (Tokoh Masyarakat Tambak)

Pertanyaan besar buat kita semua, terutama kepada Pengurus KONI secara umum terutama di Pulau Bawean. Bahkan era 80-an Muhtar Dahari adalah bintang Malaysia karena kakinya, juga Halim Husni dan Salim Husni di Singapore juga putra asli Bawean. Termasuk pebulu tangkis Malaysia adalah putra desa Tambak, yaitu Musa alias Ismail Samad yang nota bene masih ada hubungan keluarga dengan saya. Sepertinya masih banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Pemerintah kita, khususnya Pengurus KONI daerah.

M. Natsir Abrari (Tokoh Budayawan Bawean)

Insya Allah di Malaysia bukan hanya Mahali Jasuli, begitu juga di Singapore ada pemain saya adik dari Almarhum S. Wira.Kenapa di RI, kaki kita tidak laku? Karena disini faktor kedekatan dan titipan lebih dominan daripada prestasi. Salah satu contoh kecil saja, ketika Gresik mencari bakat, kami dari Kecamatan Tambak sudah mengirim kesebelasan dan masuk semifinal jadi juara 3 dan tiga pemain masuk nominasi yaitu Ramali, Totok dan Hery. Tapi yach ngak pernah ada pemanggilan. Bukan hanya sepak bola, sepak takraw kita SD saja juara nasional. Padahal mereka latihan di alam terbuka. Begitu juga kesenian, kercengan, baca puisi, tater, semuanya sering juara Jawa Timur. Padahal mereka latihan e dhurung-dhurung. Jadi Bawean butuh Gedung yang bisa dipakai berolahraga, yang juga ada stage (panggung) untuk berkesenian.

Hasan Ansari (Kades Sawahmulya Sangkapura)

NKRI, aneh bin ajaib. Bola dan kaki jadi politik, jadi muter terus. Kata pak ustad, hujan emas di negeri jiran memang terbukti, yuk ramai-ramai naturalisasi ke Malaysia atau Singapore.

Khairil Anwar (Budayawan Muda Bawean)

Perlu kerja keras yang cerdas antara atlet, pelatih, pengurus. Sepak takraw hari ini akan menghantarkan Haris ke SMANOR sebagai tempat TC Propinsi Jawa Timur.  Saya yakin jika semua masih mau kerja keras dan cerdas, Haris akan masuk ke Timnas Cabor Sepak Takraw.

Rumli SE (Pengamat Ekonomi Bawean)

Ada beberapa kemungkinan, 1. Indonesia tidak tahu bahwa rakyatnya tumbuh berkembang dinegeri orang, 2. Indonesia apriori dan tidak tertarik dengan keberhasilan rakyatnya, 3. Indonesia tidak mau intropeksi bahwa Bawean adalah bagian dari NKRI yang punya potensi untuk dikembangkan.

Kalau menurut saya sendiri sih, karena memang warga Bawean kan memang banyak di Malaysia dan Singapura, dan kedua negara tersebut adalah negara kecil dan jumlah penuduk yang tak banyak dibandingkan dengan Indonesia.

 

Share yuuk..
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

14 Comments - Add Comment

Reply


− 7 = zero