Visit Bawean #5: Pulau Bawean, Perawan yang Mandiri

Hah?! Bawean? Nama jenis kue apa, tuh? Belinya di mana ya? Jelas saja masih banyak yang belum tahu kalau Bawean itu adalah sebuah pulau. Namanya yang belum begitu tersohor di telinga pengelana awam membuat pulau ini masih terjaga alami. Tentunya, saya merasa beruntung menjadi salah satu dari sebagian turis yang pernah berkunjung ke sini. Sensasi 12 jam lebih di dalam kereta Kertajaya telah berlalu, kini saya harus naik kapal ferry Gresik-Bawean pada jam 9 malam. Kali ini saya ditemani oleh narasumber lokal Bawean, bernama Subairi (mas Riri), dan juga Benny dan Anton asal Surabaya yang akan jadi teman perjalananan saya selama di Bawean nanti.

Pulau Bawean ada di sini

Pulau Bawean ada di sini

Bawean memang hanya sebuah pulau kecil di Laut Jawa, tepatnya di utara Gresik. Pulaunya yang masih “perawan” menarik minat saya untuk dijelajahi. Tapi tujuan saya kali ini bukan cuma sekadar jalan-jalan menikmati pemandangan saja, namun juga untuk menjelajah, menggali info serta mengetahui tradisi orang Bawean. Dan pastinya Riri bakal dihujani banyak pertanyaan dari saya.

Mentari menyapa begitu saya tiba di Bawean. Perfecto!

Mentari menyapa begitu saya tiba di Bawean. Perfecto!

Tak Sabar Menunggu Kerabat yang Datang

Kami pun segera melakukan perjalanan mengelilingi Bawean dengan motor. Awalnya saya kira Bawean itu pulau yang masih jauh dari kata modern. Namun saya salah ketika mengelilingi jalanan terluar pulau ini. Sekitar 85% jalan utama sudah tertata rapi dengan aspal dan conblock.

Riri menceritakan bahwa pemerintah Gresik memang sudah mulai memberi bantuan infrastruktur Bawean dengan mengaspal jalan-jalan utama. Namun ternyata, sebagian besar jalan raya conblock dibangun atas swadaya warga lokal. Dapat dikatakan, hampir seluruh kemajuan prasarana di pulau kecil ini adalah hasil jerih payah setiap warganya. Keterbatasan memang terkadang membuat siapapun jadi mau lebih berusaha untuk mandiri.

Sejak dulu orang Bawean sudah mempunyai tradisi merantau yang cukup kental hingga sekarang. Mayoritasnya merantau ke negeri jiran dan Singapura. Di sana mereka sudah memiliki komunitas seperti keluarga sendiri yang disebut Orang Boyan. Bahkan beberapa dari mereka sudah memiliki posisi sebagai orang penting di sana, menurut penuturan mas Riri sendiri.

Antara gunung dan sawah selalu berdekatan

Antara gunung dan sawah selalu berdekatan

Indahnya jalan-jalan desa di Bawean

Indahnya jalan-jalan desa di Bawean

Perumahan juga terlihat berjejer di sepanjang jalan, sama seperti suasana jalan raya di pulau Jawa. Pulau ini seakan tak ada habisnya menawarkan berbagai macam keindahan alamnya yang membuat saya cukup terpukau. Dalam satu hari saya coba untuk menjelajah pulau ini, terutama lokasi-lokasi wisatanya yang wajib dikunjungi.

Sawah di Bawean, oh indahnya..

Sawah di Bawean, oh indahnya..

Pulau Gili (Barat) Bawean dari kejauhan..

Pulau Gili (Barat) Bawean dari kejauhan..

Penangkaran Rusa Bawean

Lokasi penangkaran rusa berada agak ke tengah pulau. Kondisi jalan yang semakin sempit dan menanjak membuat motor yang saya bawa ngeden sekuat tenaga. Belum lagi harus melewati jalan offroad berbukit di tengah-tengah pepohonan rimbun. Yang bikin sulitnya justru karena tidak adanya plang penunjuk lokasi penangkaran selama di jalan. Pengunjung awam macam kita mana mungkin tahu ada spot wajib kunjung yang jalannya harus lewat hutan di belakang rumah orang.

Offroad menuju penangkaran Rusa Bawean

Offroad menuju penangkaran Rusa Bawean

Ini dia salah satu Rusa Bawean di penangkarannya

Ini dia salah satu Rusa Bawean di penangkarannya

Singkat cerita, akhirnya kami tiba di penangkaran Rusa Bawean yang letaknya di pedalaman hutan seperti kamp prajurit pemberontak. Penangkarannya cukup luas untuk beberapa rusa yang jumlahnya dapat dihitung dengan kedua tangan. Yang membedakan Rusa Bawean dengan rusa lainnya dapat terlihat dari ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Rusa muda memiliki bintik-bintik putih di tubuhnya hingga nanti pudar di usia dewasa.

Danau Kastoba

Mengingat lokasinya berada di tengah pulauyang kontur jalannya semakin menanjak, maka lagi-lagi motor harus ngeden semaksimal mungkin. Motor kami parkir di sebelah rumah warga dan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Yap, jika mau berkunjung ke Danau Kastoba kita harus trekking dulu melewati hutan di pinggir bukit selama sekitar 15 menit.

Trekking ke danau mistis

Trekking ke danau mistis

Hari ini danau nggak sepi seperti biasanya. Begitu kami sampai di atas, ternyata sudah ada sekelompok turis lain yang lebih dulu datang. Mereka datang jauh-jauh dari negeri jiran untuk mencari leluhur mereka di Bawean, kata guide-nya. Sejak dulu orang Bawean memang sudah memiliki tradisi merantau ke negeri seberang. Kebanyakan dari mereka akan menetap di sana hingga memiliki keturunan dan dikenal sebagai orang Boyan.

Danau Kastoba ini cukup unik karena letaknya di atas bukit dan dikelilingi hutan yang membuat suasananya menjadi asri, dingin, sekaligus agak mistis. Tentu saja danau ini menyimpan beberapa cerita misteri yang cuma mitos dan bahkan kejadian nyata.

Saya sempat ngomong gini ke yang lainnya, “Kayaknya saya nggak bakal berani ke sini kalau sendirian”

“Saya juga nggak mau, kali..” timpal mas Riri.

Tentu saja tempat seperti ini menyimpan cerita unik dan cerita misteri yang cukup panjang bila saya ketik di sini. Cerita lengkapnya kalian dapat baca di sini.

“Nyawa” sudah terkumpul dan saatnya kita turun bukit meninggalkan orang-orang Melayu yang dari tadi terlihat asyik main basah-basahan. Roda motor terus berputar seiring panas matahari yang menyengat. Dengan hanya berbekal “kompas berjalan”, kami jadi tahu kalau sekarang kami lagi berada di bagian utara pulau, tepatnya di kecamatan Tambak.Di Bawean memang terlihat masih banyak tanah kosong yang biasanya berupa sawah. Namun ada 1 lahan luas kosong di daerah Tanjung Ori (Tambak) yang menarik perhatian saya. Lantas saya tepuklah pundak si mas Riri yang saat itu lagi nyetir motor supaya kami sekalian mampir ke tempat tersebut.

Bandara Tak Bernama

Ooo… ternyata ini adalah sebuah landasan pesawat terbang. Landasan sepanjang 900m ini terlihat sangat mengenaskan, mengingat pada Juni 2014 rencananya bandara bakal diresmikan. Namun hingga sekarang belum ada kejelasan mengenai kelengkapan segala macam fasilitas penunjang layaknya sebuah bandara lokal.

Karena terbengkalai, kerusakan macam retak bisa ditemukan di kiri-kanan. Yang parahnya, ternyata jalurnya nggak rata di bagian tengahnya! Dari artikel September 2014, landasan telah diperpanjang jadi 1400m. Kabarnya, maskapai Lion Air ingin membuka jalur Juanda (SBY) – Bawean. Ya, tapi kapan beresnya Bapak Bupati?

Runway Bandara Bawean. Samping runway adalah pantai

Runway Bandara Bawean. Samping runway adalah pantai

Lahan itu malah lebih terlihat seperti proyek yang ditinggalkan ketimbang proyek yang belum selesai. Untuk sementara, jalanan panjang ini dimanfaatkan oleh warga-warga sekitar untuk memuaskan dahaga mereka akan adrenalin. Ya, apalagi kalau bukan kebut-kebutan? Tapi sekarang siang bolong begini mana ada yang mau datang ke sini. Nggak terlihat ada siapapun kecuali kami berempat dan seekor kebo yang sedang nyebrang landasan dengan santainya.

Pulau Gili dan Pulau Noko

Kapal kayu yang kami tumpangi terus melaju di pesisir pulau Bawean. Sudah hampir setengah jam perjalanan sejak dari darat, namun pulau tujuan berikutnya masih di luar jarak pandang. Warna langit dan Laut Jawa yang membiru selalu menarik perhatian saya untuk menoleh ke arah kanan. Dari kejauhan itu nampak sesuatu berwarna putih yang cukup luas di tengah-tengah laut. Tak lain lagi itu adalah Pulau Noko, salah satu spot yang menjadi alasan para pelancong mengunjungi pulau Bawean.

“Kita nggak ke sana dulu, mas?” tanya saya sambil menunjuk ke arah Noko.
“Nanti, sekalian pulangnya aja. Sekarang kita ke Gili dulu,” jawab mas Riri (local guide).

Rasa penasaran sekaligus cemas melanda pikiran ketika saya melihat jarum jam menunjukkan pukul 16:30. Saya nggak mau kehilangan momen di pulau Noko nanti. Dengan kata lain, hasil foto akan lebih bagus jika masih ada penerangan alami dari matahari.

Isi bensin sambil jalan

Isi bensin sambil jalan

Pulau Selayar tak berpenghuni

Pulau Selayar tak berpenghuni

Merapat di Pulau Gili (Timur)

Merapat di Pulau Gili (Timur)

Suasana yang sepi nan damai di Pulau Gili (Timur)

Suasana yang sepi nan damai di Pulau Gili (Timur)

Di tengah-tengah pulau Noko terdapat papan kayu hijau bertuliskan “Selamat Datang di Pulau Noko…” yang baru saja dipasang beberapa minggu yang lalu. Hamparan pasirnya yang seluas setengah lapangan bola mengundang kami untuk berkeliling sebentar cuma untuk sekedar menikmati hempasan ombak kecil di tepi pantai. Saya sedikit kehilangan momen keindahan maksimalnya karena hari sudah terlanjur agak gelap. Efek sampingnya, foto-foto jadi blur dan kurang bagus.

Tiba di Pulau Noko

Tiba di Pulau Noko

Sunset di Pulau Noko

Sunset di Pulau Noko

Pulau pasir di tengah laut ini memang menjadi andalan wisata Bawean, bahkan dari yang saya baca di salah satu artikel di internet, katanya keindahan Pulau Noko ini hampir bisa disamakan dengan pulau pasir yang ada di Maldives. Tentu saja saya sendiri juga tidak tahu seberapa indah pantai pasir di Maldives saat itu. Namun bagi saya, Pulau Noko sendiri sudah dapat menggambarkan secara jelas keindahan sebuah surga berupa pulau kecil yang masih jarang terjamah bernama Pulau Bawean.

Sunset di Pulau Bawean

Sunset di Pulau Bawean

Cerita dari Bawean

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, orang Bawean memiliki tradisi merantau sejak dulu. Bagi mereka yang sudah sukses di negeri tetangga, mereka bakal kembali ke kampung dengan membawa “hadiah” untuk para keluarganya. Maka tak heran bila di sini cukup banyak rumah besar yang kosong. Mereka membeli rumah baru, kemudian merenovasi jadi bagus, lalu didiamkan saja (tidak ditinggali) karena keluarga yang lain masih tinggal di rumah yang lama. Ya, perekonomian orang Bawean menjadi terdorong secara tak langsung karena kurs mata uang asing.

Hidup di sebuah pulau kecil pasti mengharuskan segala sesuatu untuk import dari pulau lain. Apapun berasa agak mahal di sini dari harga di ibu kota seperti biasanya. Namun, segala sesuatu yang mahal berdampak pada standar hidup orang Bawean yang menjadi tinggi aka gengsi. Selama di sana, saya hampir tidak melihat ada warga yang sedang mengendarai sepeda. Kemana-mana selalu menggunakan motor dan mobil, dan yang namanya angkot saya rasa sudah punah. 3 dari 5 warga Bawean dapat digolongkan ke dalam perekonomian mampu, menurut Riri. Ya, nampaknya tradisi merantau mereka membawa dampak yang signifikan pada kampung halaman.

Anak Bawean, anak Surabaya, dan Anak Jakarta

Anak Bawean, anak Surabaya, dan Anak Jakarta

Gresik-Bawean 18 jam dengan kapal ini

Gresik-Bawean 18 jam dengan kapal ini

Sudah seharusnya Bawean sadar akan potensi wisatanya. Warganya kini sudah membentuk tim dan mulai mempromosikan kampung mereka lewat situs yang mereka buat sendiri pula. Namun, usaha untuk mengkomersilkan pulau ini mendatangkan pro dan kontra. Bagi mereka yang setuju, tentunya wisata dapat mendatangkan keuntungan. Tapi ada “pihak” lain yang tak setuju dengan alasan khawatir jika budaya barat bisa masuk. “Mereka takut jika turis-turis yang berbikini bakal menginvasi pulau,” cerita Riri. Untuk saat ini, Riri beserta tim akan berusaha untuk memberi penyuluhan pada warga Bawean akan pentingnya untuk melestarikan alam dan budaya mereka, sehingga turis yang berdatangan pun semakin bertambah.

  • Tips dan Info
    Untuk saat ini, bandara Bawean masih belum beroperasi. Jadi kapal ferry masih tetap menjadi transportasi satu-satunya menuju Bawean.
  • Fasilitas penyewaan alat snorkeling dan diving masih susah ditemukan.
  • Wajib sewa atau bawa kendaraan sendiri (motor atau mobil) karena nggak ada angkutan umum.
  • Di sini nggak ada pom bensin (SPBU). Sebagai gantinya, bensin dijual secara eceran di warung-warung.
  • Penunjuk jalan menuju tempat-tempat wisata hampir nggak ada. Oleh karena itu, lebih baik didampingi oleh guide lokal jika Anda nggak mau kehabisan waktu karena tersesat.
  • Motor nggak di kunci dan kuncinya dibiarkan menggantung begitu saja?! Nggak masalah. Kriminalitas di sini rendah.

Cerita tentang Bawean selebihnya dapat dibaca di sini:
[Road Less Traveled] Bawean, Perawan yang Mandiri
[Road Less Traveled] Penasaran Ada Apa di Bawean? (PART 1)
[Road Less Traveled] Penasaran Ada Apa di Bawean? (PART 2)

Ditulis oleh: George Martinus Utomo: Travel Journalist, Travel Photographer, Designer.
Cerita perjalanannya dapat dilihat di makanangin-travel.blogspot.com. Bisa ditemui di Google+: +GeorgeMartinus.

Semua foto hak milik George Martinus Utomo, mohon izin langsung dengan bersangkutan jika ingin menggunakannya.

Visit Bawean adalah kolom untuk semua yang pernah mengunjungi Pulau Bawean, sebagai ajang untuk berbagi cerita pengalamannya mengunjungi Pulau Bawean. Pernah ke Pulau Bawean? Kirim tulisan beserta foto-fotomu melalui email ke mail@rusabawean.com

Share yuuk..
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

11 Comments - Add Comment

Reply

Leave a Reply to Brillie Cancel reply


nine − = 5