Jamila dan Sang Presiden | Tidak Ada Presidennya
By rusabawean on May 9, 2009 in Film
Jamila dan Sang Presiden menceritakan tentang kehidupan Jamila (Atiqah Hasiholan) tiba-tiba terkenal dan menjadi headline di semua pemberitaan nasional (layaknya Rani Juliani gara-gara kasus Nasrudin dan Antasari Azhar). Jamila mengaku membunuh seorang menteri bernama Nurdin (Adjie Pangestu) dan anehnya Jamila menolak untuk mengajukan grasi pada Presiden.Kembali lagi pada kisah Jamila dewasa, hujatan datang bertubi-tubi, namun seorang penulis muda bernama Ibrahim (Dwi Sasono) yang mencintainya, berjuang membelanya. Tapi sayang, pengacara yang dikirim Ibrahim selalu ditolak Jamila.
Acara persidangan Jamila menjadi lebih panas dan semakin kontroversial dengan kemunculan kepala golongan fanatik yang mengatas namakan ormas islam (Fauzi Baadilah) yang mendukung keras agar Jamila dihukum mati.
Komentar
Ratna Sarumpaet memang tidak bisa dijauhkan dengan tema perempuan. Karena memang dia adalah aktifis perempuan yang getol memperjuangkan hak-hak perempuan. Lewat film ini Ratna ingin menyindir para penguasa dengan apa yang terjadi di negeri ini karena banyaknya perdagangan anak dan perempuan.
Sepertinya film pertama yang disutradarai oleh Ratna Sarumpaet ini bertema cukup berat dan memang cukup beda dibanding dengan film-film yang selama ini menyajikan komedi dewasa, horor dan cerita tentang remaja. Tapi bagusnya Ratna mengemasnya dengan sedikit ngepop dan cukup bisa dicerna oleh berbagai kalangan penonton. Efeknya pesan moral yang terkandung dalam film ini bisa sampai pada penonton. Tapi sayang, saya melihat adegan-adegan di sini sedikit terbawa gaya panggung teater, ini dibuktikan gaya dialog Jamila yang diperankan Atiqah Hasiholan yang seperti berpuisi atau membaca sajak tertentu. Mungkin karena memang awalnya film ini diangkat dari panggung teater. Jadi sang sutradara kurang bisa menghilangkan gaya teaternya. Kecewanya lagi adalah pada ending yang sangat bisa ketebak, jadi kurang ada kejutan yang bisa membuat penonton terpengangah.
Akting Pemain
Walaupun gaya dalog Atiqah Hasiholan seperti membaca sajak tapi aktingnya cukup bisa diacungi jempol, sepertinya Atiqah sangat penguasai perannya. Pemain lain yang aktinganya bagus di sini adalah Christine Hakim, pas sekali gaya kejam dan ketusnya berperan sebagai ketua sipir perempuan. Di luar itu saya kurang suka akting yang dilakoni Fauzi Baadilah, kebagian peran ketua ormas islam yang mendukung hukuman mati. Saya melihat kurang pas saja gaya Fauzi, bukannya geram sama tokohnya, saya malah senyum-senyum melihat dia demo dan teriak-teriak jadi seorang demonstran.
Judul yang Kurang Pas
Dari awal sampai akhir, saya sama sekali tidak melihat sosok seorang presiden di film yang berdurasi 87 menit ini. Terlalu maksa memang memberi judul “Jamila dan Sang Presiden.” Tidak ada adegan seorang presiden, tidak kelihatan sosok sang presidennya dan kata-kata presiden pun keluar hanya saat tentang penolakan Jamila mengajukan grasi pada presiden. Jadi, kata presiden pada judul adalah hanya menjadi nilai jual film ini saja.
Diluar itu semua fakta yang tidak bisa saya hindari adalah, Ratna Sarumpaet berhasil membuat saya merasa miris dan sedih. Yang mau nonton silahkan, yang tidak mau juga silahkan.
Keterangan Film Jamila dan Sang Presiden
Pemain : Atiqah Hasiholan, Christine Hakim, Eva Celia, Dwi Sasono, Fauzi Baadilah, Surya Saputra
Gambar: saya ambil dari sini






















Review filem nich?
beat2ws | May 9, 2009 | Reply
wow reviewnya hebat euy, kayaknya nggak nonton ajah kan udah tahu ceritanya di sini…
xixixixi
buwel | May 9, 2009 | Reply
review film yang bagus, meski belum sempat juga nonton film nya…btw, aku dah masukkin blog ini di my blogroll, let check this out. nuhun
pensiun kaya | May 9, 2009 | Reply
Wah kebetulan neh… saya juga lagi me-review 2 (dua) film terbaru sekaligus yaitu;
Transformers 2: Revenge of the Fallen dan;
Ketika Cinta Bertasbih
check this out in my blog
Azwar | May 9, 2009 | Reply
waaakeren reviewnyaaaa mau nonton tapi udah baca nonton, enggak, nonton enggak nonton hehehe
berpikir dan berjiwa besar | May 9, 2009 | Reply
Aku lihat talkshow beberapa hari lalu di TVOne, peran utama (yang jadi jamilah)… Cantik banget euy… Hehehe…
Hangga Nuarta | May 9, 2009 | Reply
Resensi yang bagus. Jadi tertarik untuk menilai sendiri. Kapan-kapan, mau cari DVDnya ah.
Newsoul | May 9, 2009 | Reply
atikah memang cantik….. (semoga dia ga segalak Ibunya – Ratna Sarumpaet) :p
rio2000 | May 9, 2009 | Reply
Wah baca ceritanya aja udah asyik..
Joddie | May 9, 2009 | Reply
iya aku udah liat ulasannya di tipi bulan lalu,, kayaknya sih seru abis, ntar deh bos aku nonton, lg sibuk2nya neh ^^ ni ja baru bs bles kunjunganmu ^^
Ayas Tasli Wiguna | May 9, 2009 | Reply
saya kurang suka film indonesia…
dawiecool | May 9, 2009 | Reply
makasih mas atas reviewnya… bunda ga pernah nonton sih kecuali dari DVD saja
bunda | May 9, 2009 | Reply
seru banget ya pilm jamidong dan sang presidong
Antaresa | May 9, 2009 | Reply
mantep nie kayanya ya.. ok pisan nie
torik | May 10, 2009 | Reply
kisah yang menjadi inspirasi
semuanya Mohon dukungan
tukang arsip | May 10, 2009 | Reply
@ beat2ws: yuhuu. ini adalah review fim, resensi fim, ulasan fim.
iBnuanshari.com™ | May 10, 2009 | Reply
keren, asa perkembangan di duni per-film-an Indonesia
negeri hijau | May 10, 2009 | Reply
nunggu ada yang baik hati upload pilemnya
LuxsMan Kumara | May 10, 2009 | Reply
Jadi penasaran pengen lihat
DuniaPiyen | May 10, 2009 | Reply
lagi musim film dengan tema politik ya..
fraders | May 10, 2009 | Reply
mayan baca review ini saja bisa liat gmn film yang aslinya
hehehe . thank you
bayu mukti | May 10, 2009 | Reply
waduh kayaknya lagi musim2nya film perempuan nih, setelah Perempuan Berkalung Sorban
jadi pingin liat cristine hakim jadi peran antagonis
J O N K | May 10, 2009 | Reply
Nama besar Christine Hakim mudah-mudahan bisa membawa sukses Film ini
munawar am | May 10, 2009 | Reply
Ternyata ada sindiran terhadap ormas Islam radikal yach di dalamnya. Kayak film Kamulah Satu-satunya Hanung Bramantyo dan juga kayak Berbagi Suami-nya Nia Dinata.
Thx banget buat review-nya. Mas ibnu saya akui cukup kritis dalam menilai perfilman Indonesia. Saya belajar banyak dari gaya review film mas (udah lama juga saya nggak ngulas film di blog).
iskandaria | May 10, 2009 | Reply
Wah..kren juga Filmnya nich. Benar-benar menceritakan realitas sosial aktual yang terjadi di Masyarakat. Memang latar belakang ekonomilah yang selalu menjerumuskan wanita-wanita baik-baik tereksplorasi dalam bisnis seksual, traffiking dan perdagangan wanita. Moga film ini membuka mata hati pemerintah untuk lebih memperdulikan nasib rakyat kecil yang hanya menjadi korban elit-elit politik di Jakarta.
Lalu Abdul Aziz MhD | May 10, 2009 | Reply
jelas aja kalo atiqah hasiholan dialognya kaya baca puisi…!!! diakan tumbuh sebagai seorang aktris di wilayah panggung opera mungkin disitu kali ya ibunya si Ratna Serumpaet mendidik dia? Tapi, sebagai pendatang baru dia OK!
L-ke | May 10, 2009 | Reply
kenapa ormas islam sering disudutkan
padahal belum tentu mereka melakukan kesalahan
penasaran ama endingnya
itu belum diputar kan
makasih reviewnya
annosmile | May 10, 2009 | Reply
bikin penasaran aja mas sampeyan, nuwun ya
suryaden | May 10, 2009 | Reply
@ iskandaria: gak koq mas, kalo sindiran keknya terlalu berlebihan, wong tokoh yg di sini adalah tokoh demonstran yang dibayar tapi mengatas namakan ketua ormas gitu. Waduh susah ngejelasinnya
mending nonton aja ya mas, biar gak salah paham
@ L-ke: yup, sepertinya begitu, secara ibunya orang teater bangetttsss
@ annosmile: maaf ya, tidak ada yang disudutkan! disudutkan gimana? demonstran di atas adalah demonstran yg dibayar, tapi dia mengatas namakan ormas islam. Udah diputer koq, saya berani mereview karena saya sudah menontonnya.
iBnuanshari.com™ | May 10, 2009 | Reply
Indonesia lagi trend film2 ttg poolitik dan presiden2an
cucuharis | May 10, 2009 | Reply
Seru nih mas. tp saya masih bingung waktu nonton film ini ttg alur ceritanya..
the fachia | May 10, 2009 | Reply
hehehehhe cukup lengkap baca review mu aja… maklum diriku pasti ketiduran kl nonton pilem…
Cebong Ipiet | May 10, 2009 | Reply
wah reviews pilemnya kumplit buanget…..top banget
harry seenthing | May 10, 2009 | Reply
@ the fachia: alurnya emang alur maju mundur mbak…
iBnuanshari.com™ | May 10, 2009 | Reply
oo.. jadi gitu toh ceritanya.. baru tau saya..
seru ga sih? jadi pengen nonton..
still anyway,, bagus juga ada orang yang ga bakal ngelepas harga dirinya dengan grasi..
Billy K. | May 11, 2009 | Reply
Reviewnya mantab kali, serasa langsung nonton filmnya…
dab-penyo.com | May 11, 2009 | Reply
waH, kayaknya film ini blum masuk malang..
tapi lhat review nya udah dapet gambaran..
nupho | May 11, 2009 | Reply
mantap banget reviewnya. two thumbs up dah (reviewnya lho)
Ravatar | May 11, 2009 | Reply
Wah Mas Ibnu nih .. selalu mereview film-film terbaru …. baca review saja sudah mantap bnaget, jadi bisa membayangkan isi filmnya … salut banget …
Ngomong-ngomong soal judul sang presiden … yang dalm kenyataannya di film nggak ada…berarti dia itu nembak keyword kali Mas … ini kan lagi musim pilpres … hee hee hee
Anton | May 11, 2009 | Reply
Wkxkxkxkxkx..
Kejebak judul rupanya..,tp kontek antar tokohnya bagus to mas..,iya to mas..??? ehehehehe..
SanG BaYAnG | May 11, 2009 | Reply
kapan filmnya di putar di bioskop ya
rozy | May 12, 2009 | Reply
penasaran banget ama ini film
Diah | May 12, 2009 | Reply
sebelum nonton filmnya baca dulu reviewnya asik juga…thx infonya mas
erick | May 12, 2009 | Reply
wah seru nich kayaknya filemnya
arifudin | May 12, 2009 | Reply
Wkwkwkkw… kayaknya harus nonton nih…
buJaNG | May 12, 2009 | Reply
hihihi kayaknya sengaja dibikin biar ‘demonstran dibayar’ biar mbak ratnanya gak dianggap menyinggung atau membawa2 agama tertentu
tapi ya tetep aja nama agamanya disebutin
nonton gak yaa…..
jarangdiupdate | May 12, 2009 | Reply
sy blm pernah lihat filmnya, membaca tulisan anda sepertinya film itu menarik tp sy merasa ada yg janggal dgn ketua ormas islam yg meminta menghukum jamela,
rifa | May 12, 2009 | Reply
wuih, iki mesti review pertama nang google.. hebat kowe le… tambah ngganteng wae.. *postingane*
ndop | May 12, 2009 | Reply
Ada hal-hal yang bekerja saat ditampilkan dalam bentuk teater tetapi menjadi ganjil saat menjadi bentuk film. Kalau kubilang, filmnya kurang dipoles.
kunderemp | May 12, 2009 | Reply
karena di Aceh gak ada bioskop, cukup baca review mas udah mudeng sama filmnya. thanks
m4rp4un6 | May 13, 2009 | Reply
Kapan ya dvd bajakannya keluar?
edylaw | May 13, 2009 | Reply
@ edylaw: maaf mas, saya gak promosi DVD bajakan di sini!!!
iBnuanshari.com™ | May 14, 2009 | Reply
San presiden disini memang hanya digambarkan sebagai “topik” pembicaraan, “topik” perintah. Dan itu sudah di beberkan oleh ratna Sarumpaet dan pemain-pemainnya.
Sekarang, siapa yang berani memerankan sang Presiden di negara ini? Apalagi dengan tema seperti itu…
Anonymous | May 14, 2009 | Reply
kayaknya pernah liat di TV iklannya, tp enakan reviewnya mas buat mbacanya
gdenarayana | May 14, 2009 | Reply
wuiih pereview rupanya. bakal sering saya kunjungi blog ini. al nya saya demen juga nonton film.
mengomentari review diatas ada yang perlu saya pertanyakan apa motif Ratna surampaet memasukkan unsur ormas islam dalam film ini. padahal dalam film ini (dari reviewnya) faktor masalah bukan pada penyimpangan akidah. Apakah dia dendam akan kasus APP.
entahlah, nanti saya tonton kaya apa sebenarnya.
novi | May 15, 2009 | Reply
Jajang CN nya kurang sreg.
Fariskhi | May 15, 2009 | Reply
Atiqah Hasiholan hebat juga………. salam kenal http://www.indonesiamenulis.com
Indonesia Menulis | May 16, 2009 | Reply
maaf….mas….pada saat penggarapan film “Jamila dan sang Presiden” bpk presiden gak bisa ikutan syuting karna dia lg main Golf sama saya…..
sekali lagi saya mohon maaf klu filmnya kurang seru karna ketidak hadiran pak presiden, padahal aku dah berusaha ngingetin pak presiden supaya ikut syuting tapi dia nolak, katanya lebih enak main golf sama saya….!!!
he…he..he….he….!!!
(ikut2an “nasrudin” nieeeeeeeeee
inax | May 20, 2009 | Reply
sebenarnya ada adegan tentang sang presiden. tapi tiap kali sang presiden hendak memulai akting ato dialog, bu sarumpaet lebih dahulu selalu bilang “CUT!”.
tak percaya rupanya bu sarumpaet pada kepiawaian akting sang presiden
njepret | May 21, 2009 | Reply