Hadist Doa Malaikat Jibril dan Minta Maaf Menjelang Bulan Ramadhan

76

berdoa“Do’a Malaikat Jibril menjelang Ramadhan “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri; Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang ekitarnya” Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang mengaminkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at”.

Pernah dapat forwardan pesan seperti di atas? pesan tentang sebuah hadis berkaitan do’a Malaikat Jibril dan diaminkan oleh Nabi Muhammad serta para Sahabat. Do’a Malaikat Jibril itu adalah sbb:

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri; Tidak berma’fan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya. Maka Rasullah pun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali.

Menjelang bulan Ramadhan banyak sekali kita mendapatkan pesan melalui yahoo messenger, email, SMS, bahkan tak sedikit sekarang yang menulis di status facebooknya. Sekarang pun pesan-pesan serupa di atas sudah banyak yang masuk di inbox ponsel saya.

Saya heran, sejak kecil hingga saya menuntut ilmu di bangku Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah hingga melanjutkan di SMA dan menuntut ilmu di PP Qomaruddin, tidak pernah mendengar hadis di atas. Dan tak pernah ada budaya saling meminta maaf sebelum menunaikan ibadah puasa. Setelah saya mencari jawaban atas tersebarnya tafsir asal-asalan itu, saya bisa menyimpulkan kalau itu tidak benar. Untuk informasi di dunia online anda bisa baca penjelasannya di sini.

Memang tak ada salahnya saling meminta maaf, hal itu pun baik, tapi kalau alasannya merujuk pada hadist yang banyak tersebar di saat menjelang Ramadhan seperti telah saya sebutkan di atas, hal ini bisa menjadi bid’ah. Anda tahu makna bid’ah kan?

Ajaran sesat atau bid’ah dalam agama islam berarti sebuah perbuatan yang tidak pernah diperintahkan maupun dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW tetapi banyak dilakukan oleh masyarakat sekarang ini. Hukum dari bid’ah itu sendiri adalah adalah haram.

Maka dari itu sekarang berhentilah menyebarkan tafsir asal-asalan.

Marhaban Yaa Ramadhan
RusaBawean.com™ mengucapkan selamat menunaikan ibadah Puasa Ramadhan 1430 H.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”
(QS. Al Baqarah: 183)

76 COMMENTS

  1. saya setuju dengan admin.. awalnya pas baca saya sempat kaget.. ko baru denger ya ada hadist yang mengatakan demikian, saya sudah baca terjemahan hadits riyadushalihin ( ampe tamat), ga ada yang berbunyi demikian, atau memang ada, tapi kita, terutama saya belum mengetahuinya.. hadits tersebut soheh atau mutawatir.. subhanallah, apakah ini buatan manusia?? kalo iya.. kafir sekafir2nya,,, SESAT MENYESATKAN, walupun itu baik, soalnya bawa2 hadits+nabi+malaikat segala..

  2. sepakat bahwa tafsiran juga tidak boleh asal-asalan. hanya orang mengerti atau berilmu yang mengerti ilmu tafsir.

    tapi btw, apakah bidah itu pengertiannya sama dengan ajaran sesat? maaf, saya ko kurang sepakat ya. bid’ah itu adalah sesuatu yang tidak diajarkan oleh Nabi. Tidak bisa disamakan dengan kata “atau” seperti yang disebutkan di atas.

    Ada dua bid’ah, yakni dholalah dan hasanah. Ngeblog juga bid’ah bukan. Mohon dikoreksi jika saya yang salah.

  3. Saya juga merasa ada sesuatu.
    Dulu, tak pernah ada saling minta maaf sebelum jalankan puasa Ramadhan, tapi terakhir2 ini begitu maraknya. Saya juga menerima banyak SMS seperti yg Mas tulis itu tapi saya tak pernah menyebarkannya kembali. Semoga saya tidak keliru.

  4. saya setuju banget dengan pendapat mas. bener2 info seger nie. bumi yg sudah tua ini memang telah banyak teracuni oleh segala sesuatu hal. Jadi pinter2 kita aja agar tidak terinfeksi racun.
    Kata changcuter “RACUNNNN… RACUUUN”

  5. lah aq juga belum pernah denger loh hadistnya, baru darisini aq mendengarnya…

    ehm menurutku sech meminta maaf sebelum puasa itu baik juga, jadi pas kita puasa kita gak ada tanggungan dosa. Ya misalnya kita sedang bermusuhan, nah pas puasa kan gak enak diati tohh dan bisa nambah dosa. hehehehehehe

    met menjalankan ibadah puasa yak… :D

  6. . menurutku bid’ah itu gk haram….

    . masa diba’an itu haram?? gk kan??

    . masa tahlilan itu haram?? gk kan???

    . itu kn salah satu contoh dri bid’ah…

    . mohon dikoreksi isi postingannya…

  7. Ass.W.W. Di masjid Istiqlal Jakarta jum’at 1 hari sebelum puasa kemarin, saya dengar itu dari Khotib-nya, saya cermati dan ingat-ingat krn baru dengar dan wow penting banget tuh.

    Dari Istiqlal saya langsung pulang ke Lampung, pas di tol kebun jeruk dapet SMS dari medan yang isinya sama demikian. Sampe Tanjungkarang pas orang-orang bubaran Taraweh pertama. Saya Cas Batre yg ‘empty’ dan terkirimlah forward ke banyak teman dan saudara.

    Ada respon teman: Wah kok malaikat Jibril Jahat yaaa (itu jg sempat terlintas saat di Istiqlal, tapi terima aja..)

    Saya segera SMS Ustad kami yang ahli Hadist dan sampai siang jam 15.40 ini belum dpt jawaban: apakah itu hadist atau apa?

    Kalau ternyata itu sesuatu yang bo’ong, harapan saya sih lain kali jangan sampai muncul lagi di khotbah se-level mesjid Istiqlal. Apa memang di situ tidak di saring dulu materi khotbahnya?.

    Apapun mudah-mudahan yang Haq yang kita dapatkan, Insya Alloh. Terimakasih banget informasinya. Tks. Wass.

  8. @ antown: yup, bidah itu sesat bos, Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama.
    Ngeblog itu gak termasuk kegiatan agama. Ngeblog itu bukan ibadah yang diada-adakan.

    @ vie_three: yup setuju, gak ada salah dalam meminta maaf, asal jangan dikarenakan hadist2 sesat itu.

    @ Nadia: mbak Nadia, bidah itu haram.
    cobak cek lagi refenrensinya sampeyan yg mengatakan jika dibaan dan tahlilan itu termasuk bidah.

    @ Odes Oki: waduh, di Istiqlal koq ada kek gitu c. Parah deh.

  9. Saya nggak tau apa itu “bid’ah” bro, heheh…
    Non muslim soal’x…
    Btw, selamat menunaikan ibadah puasa ya bro, moga puasanya lancar2 aja. AMin :)

  10. Wah, saya malah baru tau tuh ada doa JIbril kayak di atas. Kita perlu hati-hati dan tidak langsung percaya begitu saja terhadap yang belum jelas. Saya kira doa di atas tidak valid dan kurang bisa dipertanggungjawabkan. Toh, bermaafan kan gak mesti nunggu sebelum puasa atau waktu tertentu.

  11. noersam.net mengucapkan slamat menunaikan ibadah puasa, dan mohon maaf apabila selama komentar di blog anda semua ada salah dan khilaf….semoga puasa kita membawa banyak hikmah dan perubahan..amien

  12. Ibnuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……..

    ati-ati nek nulis!!!!!!!!!!!!

    bahaya…

    ojo saling sesat menyesatkan.. karena kalau salah, justru kita sendiri yang sesat…

    hati-hati ya…

    takon kiyai disik, ilmu kita itu belum tinggi…. yayaya…

  13. @ ndop: maaf ya ndop ya, bukane saya sok tau, saya tulis itu karena saya yakin apa yang saya tulis itu benar, dan sebelum menulis pun sudah konsult sama orang yang kompeten di bidang tsb, lagian saya sudah cari banyak refenrensi.

    Silahkan saudara ndop, cek dulu referensi sampeyan, jika apa yg saya tulis itu sampeyan ragukan.

  14. betul bos, sebelum romadhon tiba banyak sms ke hpku isinya meminta maaf atas kehilafan, meminta maaf itu emang bagus tp kok di awal rhomadhon bukankah yg lebih sakral di idul fitri. setiap saat jg di wajibkan meminta maaf cuma kok seakan diawal rhomadhon itu sebuah kewajiban itu kurang setuju. Aku setuju dgn postingan bos…
    salam

  15. Romadhan menggetarkan Jiwa2 yang Haus akan Cinta Kasih Allah, sementara Kasih Sayang Allah tiada terbatas. Semoga Menjadi Berkah untuk Semua Saudara2ku wabil khususon sahabatku mas Bawean yang saya Hormati dan Kasihi.

    MOHON MA’AF LAHIR & BATHIN DARI KALIAN SEMUANYA…..semoga terbuka untukku sekeluarga.

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

  16. Para Sahabat mari kita gunakan momentum PUASA RAMADHAN ini untuk mempersatukan RASA.. membentuk satu keluarga besar dalam persaudaraan ber dasarkan CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG.. menghampiri DIA.. menjadikan ALLAH sebagai SANG MAHA RAJA dalam diri.. menata diri.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Tenang.. menemukan Jati Diri Manusia untuk Mengembalikan Jati Diri Bangsa
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  17. Assalamu ‘alaikum WR, WB
    Alhamdulillah! Kita semua masih bisa bertemu Ramadhan 1430 H Tahun ini, Selamat menunaikan ibadah puasa, semoga kita semua diberi kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan segala perintahNnya, Amiin.
    Sahabat! 2 minggu lagi sebuah kontes seo RZSV yang saya ikuti akan berahir. Ada mimpi untuk memiliki sebuah komputer dengan berharap bisa memenangkan kontest tersebut. Saya tahu kontes ini berseberangan dengan idealisme blogger yang seharusnya, namun niatan tulus hanya untuk belajar seo. Jika berkenan sudilah kiranya menempatkan nama Rusli Zainal Sang Visioner di bagian sidebar blog sahabat, dengan link ke blog utama bukan pada Artikel. Seditaknya sampai kontes seo ini berahir, yaitu sampai 12 september saja,Setelah kontes berakhir, sahabat bisa menghapusnya. Bantulah saya mewujudkan impian saya, bantuan backlink dari sahabat sangatlah berarti bagi saya. tiada yang bisa saya berikan sebagai balasan atas bantuan dari sahabat kecuali ungkapan terima kasih yang sebesar-besarnya serta link back sebagaimana tradisi bertukar link.
    Wassalamu ‘alaikum WR. WB
    semoga penyebar hadist do’if mendapat ganjaran setimpal.

  18. Bismillah
    untuk antown…
    bid’ah arti dari sisi bahasa arab yaitu sesuatu yang baru / tidak ada contoh sebelumnya. contoh komputer bid’ah, artinya komputer baru yang belum ada pada jaman sebelumnya. atau baju bid’ah artinya baju penemuan baru belum ada contohnya. hal seperti contoh yang saya sebutkan itu boleh-boleh saja di dalam islam (maksudnya bid’ah dalam perkara kebutuhan manusia yang berhubungan dalam kegiatan keduniaan).
    tapi yang dilarang didalam islam adalah bid’ah di dalam ajaran islam yang dibawa oleh rosululloh. karena rosululloh pernah bersabda “Barangsiapa mengarang sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak” (HR. Bukhari). seperti kita ketahui bahwa rosululloh di utus untuk memperbaiki aqidah dan mengajarkan tata cara ibadah kepada yang berhak di sembah yaitu ALlah subhanahu wata ala. jadi yang dilarang bukan bid’ah membuat blog, dan membuat penemuan yang lainnya yang bersifat keduniaan, tetapi yang dilarang adalah menyaingi Allah dalam membuat aturan/tata cara ibadah kepada ALLAH. aturan, tata cara ibadah kepada Allah adalah Hak Allah secara penuh, tidak boleh ada manusia atau mahluk yang lainnya untuk coba-coba ikut mengarang atau menemukan cara baru dalam hal beribadah. jadi silahkan saja membuat penemuan baru dalam hal kemajuan teknologi tetapi jangan sekali-kali membuat penemuan di dalam aturan beribadah kepada Allah Subhanahu wata ala. karena bid’ah di dalam agama itulah yang menyebabkan bermunculan agama-agama baru, ajaran-ajaran baru yang sesat. seperti agama nasrani contohnya, asal usulnya berawal dari di utusnya Nabi Isa Alaihisalam, tetapi karena karangan demi karangan yang dibuat oleh manusia di jaman itu maka berkembanglah menjadi agama nasrani yang menyembah Nabi Isa alaihisalam bukan lagi menyembah Allah subhanahu wata ala sebagai Tuhan semesta alam. lihatlah dijaman sekarang banyak agama yang bermunculan, banyak ajaran-ajaran baru yang bermunculan itu semua berawal dari bid’ah atau karangan baru yang manusia buat. makanya bid’ah itu disebut sesat atau yang bisa menyebabkan kesesatan… !!??

  19. dari kitab apa mas hadis itu di cantumkan……kok nggak pernah kedengaran, kayaknya barang baru ya…..coba cek sanad dan rawinya deh biar jelas…..mat menjalankan ibadah puasa…..

  20. kita sebagai mahkhluk Allah seharusnya mencontoh sifat Allah Yang Maha Pema’af dan sifat Nabi yang suka memaafkan, sebaik-baik orang adalah orang yang mau memaafkan dan tidak hina orang yang selalu minta maaf.
    jika kita menilik betapa indahnya hal itu, bila kita lakukan setiap saat, apalagi sebelum memasuki puasa ramadhan, karena kita ingin menjalankan puasa dengan hati yang bersih, tidak ada salahnya, dan hal itu baik, apakah hal yang baik ini harus di tinggalkan hanya karena tidak ada dasar / dalil / tidak ada dalam anjuran Nabi Muhammad SAW, terus dikatakan BID’AH. jikalau hal yang baik ini tidak ada dalam anjuran Nabi Muhammad SAW, terus apakah meminta ma’af sebelum berpuasa di bulan ramadhan tidak boleh dilakukan, apalagi jika itu dilakukan sebelum menjalankan sesuatu yang baik, jika meminta ma’af sebelum puasa ramadhan dianggap bid’ah, terus apakah meminta ma’af setelah bulan syawal juga bid’ah, masya Allah. Allah yang Maha Pema’af dan Maha Pengampun saja menganjurkan untuk meminta ampunan setiap saat kok, janganlah sedikit sedikit bid’ah, sedikit sedikit tidak sesuai dengan sunnah rosul, sedikit sedikit …. apa lagi namanya.
    terus apakah meminta ma’af sebelum puasa ramadhan itu sesat dan menyesatkan …. ?????? jika kita bisa malah kita setiap saat meminta ma’af kepada semua orang yang kita pernah berhubungan, apakah ini juga bid’ah …..
    orang-orang yang mengatakan sedikit-sedikit bid’ah tolong jg intropeksi : apakah jika anda sudah tidak melakukan bid’ah, amal ibadah dan amal perjuangan anda diterima oleh Allah, tidak tahu kan ??????

  21. Saling memaafkan adalah perbuatan yang mulia, tapi mengarang cerita tentang Jibril dan kanjeng nabi SAW adalah perbuatan hina dan biadab.

    Budaya tercipta oleh manusia, selama budaya tersebut baik, Insha Allah tidak ada masalah, tapi jangan buat budaya yang hasil dari karang-mengarang, terlebih pake nama Jibril dan kanjeng Nabi SAW.

    Maaf kalau tidak berkenan…..

  22. Marhaban Ya Ramadhan…Ya Syahrus Shiyam,Ya Syahrun Mubarokun,Ya Syahrum Maghfiroh, Ya Syahrus Shobri, Ya Syahru Tarohum, Ya Syahru Qur’an, Ya Syahru Muwassa’, Ya Syahrul Jud….. Mohon Ma’af Lahir Batin, selamat menunaikan Ibadah shaum, semoga Allah SWT. Berkenan Menerima amal Sholih kita di bulan Ramadhan tahun ini….Amien

  23. Dinda Yth.
    Mengenai hadis yg dimaksud sesungguhnya ada., walau tdk persis sama dgn bunyi hadis yg biasanya kita dengar dari Ustad/Muballigh. Hadis tsb banyak terdapat dalam berbagai kitab rujukan hadis. Salah satunya saya lampirkan utk adinda.
    ????? ?????? ??????? – (? 4 / ? 304
    ??????) ??? ??? ????????? ?????? ???? ??? ??? ?????? ?? ???? ?????? ??? ???? ?? ?????? (? ????) ??? ???? ??? ???? ?? ????
    ?????? ?? ??? ??? ???? ???? ?? ???? ?? ???? ?????? ???? ??? ???? ?? ???? ?? ??? ???? ?? ???????? ???? ??? ??? ???? ??????? ??? ?????? ??? ?? ???? ?? ???? ?? ???? ?? ??? ????? ??? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ????? ??? ????? ?????? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ?? ??? ??? ???????? ??? ??? ??? ??? ??? ?????????? ??? ?? ??? ??? ?????? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ?? ???? ????? ???? ???? ??????? ?? ??? ?? ???? ????? ???? ?????? ??? ?? ???? ???? ?? ?????? ????? ?????? ??????? ??? ??????? ??? ??? ????? ???????? ?????? ??????? ??? ??? ?????? ?????? ?????? – (???????) ??? ??? ???? ?????? ?????? ??? ??? ???? ?? ??? ???? ?????? ???? ????? ?? ????? ??? ???? ?? ???? ?? ??? ??????? ?? ?????? ??? ????? ???? ?? ???? ?? ???? ??? ??? ??? ????? ???? ?????? ????? ??? ??? ??? ????? ?????? – (??????) ??? ??? ???? ?????? ???? ???? ?? ??? ???????? ??? ??? ?????? ?? ????? ??? ?????? ?? ?????? ??? ??? ???? ?? ??? ?? ?????? ???? ??? ???? ?? ???? ?? ??? (? ???????) ?????? ??? ???? ???? ?? ?????? ?? ???? ?? ?????? ???????? ???? ???? ??? ????? ?? ????? ???? ?????????? ???? ?? ????? (1) ???????? ??? ??????? ?? ???? ??????? ??? ??? ?????? ?? ??? ???? ?? ???? ?? ??? ?? ?????? ?? ???? ?? ??? ????? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ????? ?????? ???? ???? ???? ???? ???? ?? ?????? ???? ????? ???? ??? ???? ??? ?? ?????? ???? ?????? ??? ??? ??? ??? ???? ????? ??? ???? ?? ???? ???? ?? ??? ??? ??? ??? ???? ???? ??? ??? ???? ???? ???? ?? ??? ??? ??? ??? ???? ?????? ?? ?????? ??? ???? ????? ???? ???? – ??? ???? ??? ?????? ??? ????? ?????? ??? ?????? ???? ??? ??? ???????? – (??????) ??? ??? ???? ?????? ???? ??? ???? ????? ?? ???? ?? ???? ??????? ???? ???? ??? ?????? ???? ????? ???? ??? ???? ?? ??????? ???? ???? ?? ???? ??? ??? ???? ?? ??? ?? ???? ?? ???? ???? ??? ??? ??? ???? ?????? ???? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???? ?? ??? ????? ???? ????? ????? ?? ?? ????? ?? ?? ????? ??? ??? ?? ???? – (?????) ??? ???? ??? ???? ?? ???? ????????? ???? ??? ???? ???? ?? ???? ?? ???? ?????? ???? ??? ????? ?? ???? ?? ?????? ????????? ??? ????? ?? ????? ?? ?????? ?? ??? ???? ?? ??? ?????? ?? ??? ????? ?? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ?? ??? ????? ??????? ??????? ??? ?? ?? ???? ?? ???? – ???? ??????? ?? ?????? ?? ??? ?? ????? – (??????) ??? ??? ???? ?????? ???? ???? ?? ??? ???? ???? ??? ??? ?????? ?? ????? ??? ?????? ?? ?????? ??????? ??? ??? ???? ?? ??? ?? ???? ?????? ??? ??? ???? ???? ???? ?? ???? ?? ??? ???? ?????? ?????? ???? ?? ?????? ??? ???
    ??? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ???? ?? ??? ??? ??? ???? ????? (2) ???? ???? ???? ?? ????? ??? ???? ???? ????? ?? ?????? ???? ??? ???? ?? ??? ????? – ???? ???? ?? ?????? ?? ????? ?? ??? ??? ???? ??? ???? ????? ?? ??? ??? ??? ????? – (??????) ??? ??? ???? ?????? ???? ??? ????? ???? ?? ???? ?? ????? ??? ????? ?? ???? ??????? ???? ??? ??? ???? ?? ??? ?????? ?? ?????? ?? ??? ????? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ??? ????? ???? ???? ????? ?? ?????? ?? ???? ??? ???? ?? ??? ????? ???? ???? ????? ?????? ?????? ?? ???? ??????? ?? ???? ???? ?? ?? ???? ????? ??????? ??? ??? ???? ??? ??? ?????? ????? ??????? ?? – ???? ??????? ?? ?????? ?? ??????? – (??????) ??? ??? ???? ?????? ???? ????? ?? ??? ????? ?????? ???? ??? ????? ?? ????? ??? ????? ??? ??????? ?? ??? ???? ???? ???? ?? ?????? ?? ??? ???? ?? ??? ????? ??? ???? ??? ??? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ?? ??? ??? ??? ????? ?????? ??? ??????? ??? ??? ???? ??? ??? ???? ????? ??? ????? ???? ?? ???? ???? ?? ??? ?????
    __________
    (1) ? – ??? ??? ????? (2) ? – ?????? – (*)

  24. BID’AH

    Nabi saw memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.
    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan
    tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat
    buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang
    mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat
    buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang
    mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits
    no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi
    Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan
    makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
    Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila
    kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas
    islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik
    ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi
    ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian
    ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru
    demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk
    kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah
    makna ayat :
    “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini
    Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan
    bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,
    Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi
    memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam
    kategori syariah dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya
    islam,
    Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah,
    karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll,
    berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya
    selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian
    turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram, maka membuat
    kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja.
    Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan
    dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah
    diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw :
    “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan…dst”, inilah yang
    disebut Bid’ah Dhalalah.

    Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka
    beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya
    dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar ummat tidak tercekik dengan hal
    yang ada dizaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan
    agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah).
    Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah
    saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman
    syariah, karena hadits diatas jelas jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk
    sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan
    Tabi’in.

    Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah
    wafatnya Rasul saw?

    Ketika terjadi pembunuhan besar besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang
    mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah
    Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :
    “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas
    ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an,
    lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis
    Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh
    Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan
    dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan
    dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd)
    adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau
    telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah
    Alqur’an..!”
    Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung
    daripada gunung gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan
    Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah
    saw?”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga
    iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
    sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih
    Bukhari hadits no.4402 dan 6768).
    Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar shiddiq ra mengakui
    dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
    sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah)
    yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya alqur’an belum dikumpulkan
    menjadi satu buku, tapi terpisah pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit
    onta, di tembok, dihafal dll, ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang
    memulainya.
    Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah
    mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah
    yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata :
    “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri
    wasiatlah kami..” maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa
    kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang
    Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat
    banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan
    sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat
    dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal
    hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak
    Alasshahihain hadits no.329).
    Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan
    sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang
    baru selama itu baik dan tak melanggar syariah, dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah
    anda lihat sendiri bagaimana Abubakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui
    bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan
    oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa
    Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.
    Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin
    melakukan bid’ah hasanah, Abubakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya
    memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula
    dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata :
    “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan
    Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan
    nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.
    Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw adalah dua kali adzan di
    Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan dimasa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah
    Abubakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan dimasa
    Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).
    Siapakah yang salah dan tertuduh?, siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?,
    adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna
    Bid’ah?

    Bid’ah Dhalalah

    Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk
    pada golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti
    penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin,
    nah…diantaranya adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar
    syariah, karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh
    Khulafa’urrasyidin, dan Rasul saw telah jelas jelas memberitahukan bahwa akan
    muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah pada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin,
    bagaimana Sunnah Rasul saw?, beliau saw membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana
    sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul
    saw.
    Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan
    dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran
    pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada
    perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing,
    melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat
    Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
    Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dll inipun tak pernah ada perintah
    Rasul saw untuk membukukannya, tak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan
    menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Rasul saw.
    Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat
    memahami kedudukan derajat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun
    Bid’ah Hasanah.
    Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh
    Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut dalam Al-Quran bahwa
    mereka para sahabat itu diridhoi Allah, namun tak ada dalam Ayat atau hadits Rasul
    saw memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun karena
    kecintaan para Tabi’in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan
    tersebut. Dan ini merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, Lalu muncul
    pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di CD kan, Program Al-Quran di handphone, Al-
    Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah.
    Bid’ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena
    dengan adanya Bid’ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk
    mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-
    Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
    Sekarang kalau kita menarik mundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak
    dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan
    sejarah Islam ?
    Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra
    yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di
    zaman sekarang, karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya,
    yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan
    hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih
    mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita
    masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan Abadi,
    jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah
    mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah),
    mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal hal baru yang berupa
    keburukan (Bid’ah dhalalah).

    Saudara saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan
    Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan ucapannya adalah Mutiara Alqur’an,
    sosok agung Abubakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai Allah
    menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”.
    Lalu berkata pula Zeyd bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abubakar dan
    Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?, maka Abubakar ra
    mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun(Abubakar ra)
    meyakinkanku (Zeyd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku
    sependapat dengan mereka berdua”.
    Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih
    menerima hal hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra,
    hati Umar bin Khattab ra, hati Zeyd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang
    dijernihkan Allah swt,
    Dan curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka
    barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan
    mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan
    Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah
    perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya
    berpeganglah erat erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
    Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat
    dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi
    Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin

    Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah

    1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah
    (Imam Syafii)
    Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan
    bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan
    yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar
    bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam
    Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
    2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
    “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi
    berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan
    adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri
    muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidak
    sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu
    ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa
    membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala
    orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan
    barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya
    dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir
    Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)
    3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy
    rahimahullah (Imam Nawawi)
    “Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam
    islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak
    berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang
    dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang
    baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat
    pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua
    yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk
    dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
    Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah
    yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah
    yang haram.
    Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan
    yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila
    dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmu
    syariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang Mubah adalah
    bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas
    diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum,
    sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”.
    (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
    Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
    rahimahullah
    Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang
    umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkan
    segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau
    pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam
    dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada
    kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna
    keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku
    dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun
    setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
    Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman
    para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?,
    berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia
    tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak
    punya sanad, hanya menukil menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa
    memperdulikan fatwa fatwa para Imam?
    Walillahittaufiq

    DARI BUKUNYA HABIB MUNZIR AL MUSAWWA (KENALILAH AQIDAHMU)

  25. HADITS DHO’IF

    Hadits Dhoif adalah hadits yang lemah hukum sanad periwayatnya atau pada hukum
    matannya, mengenai beramal dengan hadits dhaif merupakan hal yang diperbolehkan
    oleh para Ulama Muhadditsin,
    Hadits dhoif tak dapat dijadikan Hujjah atau dalil dalam suatu hukum, namun tak
    sepantasnya kita menafikan (meniadakan) hadits dhoif, karena hadits dhoif banyak
    pembagiannya,
    Dan telah sepakat jumhur para ulama untuk menerapkan beberapa hukum dengan
    berlandaskan dengan hadits dhoif, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal
    rahimahullah, menjadikan hukum bahwa bersentuhan kulit antara pria dan wanita
    dewasa tidak membatalkan wudhu, dengan berdalil pada hadits Aisyah ra bersama
    Rasul saw yang Rasul saw menyentuhnya dan lalu meneruskan shalat tanpa
    berwudhu, hadits ini dhoif, namun Imam Ahmad memakainya sebagai ketentuan
    hukum thaharah.
    Hadits dhoif ini banyak pembagiannya, sebagian ulama mengklasifikasikannya menjadi
    81 bagian, adapula yang menjadikannya 49 bagian dan adapula yang memecahnya
    dalam 42 bagian, namun para Imam telah menjelaskan kebolehan beramal dengan
    hadits dhoif bila untuk amal shalih, penyemangat, atau manaqib, inilah pendapat yang
    mu’tamad, namun tentunya bukanlah hadits dhoif yang telah digolongkan kepada
    hadits palsu.
    Sebagian besar hadits dhoif adalah hadits yang lemah sanad perawinya atau pada
    matannya, tetapi bukan berarti secara keseluruhan adalah palsu, karena hadits palsu
    dinamai hadits munkar, atau mardud, Batil, maka tidak sepantasnya kita
    menggolongkan semua hadits dhaif adalah hadits palsu, dan menafikan
    (menghilangkan) hadits dhaif karena sebagian hadits dhaif masih diakui sebagai
    ucapan Rasul saw, dan tak satu muhaddits pun yang berani menafikan
    keseluruhannya, karena menuduh seluruh hadist dhoif sebagai hadits yang palsu
    berarti mendustakan ucapan Rasul saw dan hukumnya kufur.
    Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang sengaja berdusta dengan ucapanku
    maka hendaknya ia bersiap siap mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari
    hadits no.110),
    Sabda beliau SAW pula : “sungguh dusta atasku tidak sama dengan dusta atas nama
    seseorang, barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka ia bersiap siap
    mengambil tempatnya di neraka” (Shahih Bukhari hadits no.1229),
    Cobalah anda bayangkan, mereka yang melarang beramal dengan seluruh hadits dhoif
    berarti mereka melarang sebagian ucapan / sunnah Rasul saw, dan mendustakan
    ucapan Rasul saw.

    Wahai saudaraku ketahuilah, bahwa hukum hadits dan Ilmu hadits itu tak ada di zaman
    Rasulullah saw, ilmu hadits itu adalah Bid’ah hasanah, baru ada sejak Tabi’in, mereka
    membuat syarat perawi hadits, mereka membuat kategori periwayat yang hilang dan
    tak dikenal, namun mereka sangat berhati hati karena mereka mengerti hukum, bila
    mereka salah walau satu huruf saja, mereka bisa menjebak ummat hingga akhir zaman
    dalam kekufuran, maka tak sembarang orang menjadi muhaddits, lain dengan mereka
    ini yang dengan ringan saja melecehkan hadits Rasulullah saw.
    Sebagaimana para pakar hadits bukanlah sebagaimana yang terjadi dimasa kini yang
    mengaku ngaku sebagai pakar hadits, seorang ahli hadits mestilah telah mencapai
    derajat Alhafidh, alhafidh dalam para ahli hadits adalah yang telah hafal 100 ribu hadits
    berikut hukum sanad dan matannya, sedangkan 1 hadits yang bila panjangnya hanya
    sebaris saja itu bisa menjadi dua halaman bila ditulis berikut hukum sanad dan hukum
    matannya, lalu bagaimana dengan yang hafal 100 ribu hadits?.
    Diatas tingkatan Al Hafidh ini masih adalagi yang disebut Alhujjah, yaitu yang hafal 300
    ribu hadits dengan hukum matan dan hukum sanadnya, diatasnya adalagi yang disebut
    : Hakim, yaitu yang pakar hadits yang sudah melewati derajat Ahafidh dan Alhujjah,
    dan mereka memahami banyak lagi hadits hadits yang teriwayatkan.
    (Hasyiah Luqathuddurar Bisyarh Nukhbatulfikar oleh Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al
    Atsqalaniy).
    Diatasnya lagi adalah derajat Imam, sebagaimana Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal
    1 juta hadits dengan sanad dan matannya, dan Ia adalah murid dari Imam Syafii
    rahimahullah, dan dizaman itu terdapat ratusan Imam imam pakar hadits.
    Perlu diketahui bahwa Imam Syafii ini lahir jauh sebelum Imam Bukhari, Imam Syafii
    lahir pada th 150 Hijriyah dan wafat pada th 204 Hijriyah, sedangkan Imam Bukhari
    lahir pada th 194 Hijriyah dan wafat pada 256 Hijriyah, maka sebagaimana sebagian
    kelompok banyak yang meremehkan Imam syafii, dan menjatuhkan fatwa fatwa Imam
    syafii dengan berdalilkan shahih Bukhari, maka hal ini salah besar, karena Imam Syafii
    sudah menjadi Imam sebelum usianya mencapai 40 tahun, maka ia telah menjadi
    Imam besar sebelum Imam Bukhari lahir ke dunia.
    Lalu bagaimana dengan saudara saudara kita masa kini yang mengeluarkan fatwa dan
    pendapat kepada hadits hadits yang diriwayatkan oleh para Imam ini?, mereka
    menusuk fatwa Imam Syafii, menyalahkan hadits riwayat Imam Imam lainnya,
    seorang periwayat mengatakan hadits ini dhoif, maka muncul mereka ini memberi
    fatwa bahwa hadits itu munkar, darimanakah ilmu mereka?, apa yang mereka fahami
    dari ilmu hadits?, hanya menukil nukil dari beberapa buku saja lalu mereka sudah
    berani berfatwa, apalagi bila mereka yang hanya menukil dari buku buku terjemah,
    memang boleh boleh saja dijadikan tambahan pengetahuan, namun buku terjemah ini
    sangat dhoif bila untuk dijadikan dalil.
    Saudara saudaraku yang kumuliakan, kita tak bisa berfatwa dengan buku buku, karena
    buku tak bisa dijadikan rujukan untuk mengalahkan fatwa para Imam terdahulu,
    bukanlah berarti kita tak boleh membaca buku, namun maksud saya bahwa buku yang
    ada zaman sekarang ini adalah pedoman paling lemah dibandingkan dengan fatwa fatwa Imam Imam terdahulu, terlebih lagi apabila yang dijadikan rujukan untuk
    merubuhkan fatwa para imam adalah buku terjemahan.
    Sungguh buku buku terjemahan itu telah terperangkap dengan pemahaman si
    penerjemah, maka bila kita bicara misalnya terjemahan Musnad Imam Ahmad bin
    Hanbal, sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal ini hafal 1 juta hadits, lalu berapa luas
    pemahaman si penerjemah yang ingin menerjemahkan keluasan ilmu Imam Ahmad
    dalam terjemahannya?
    Bagaimana tidak, sungguh sudah sangat banyak hadits hadits yang sirna masa kini,
    bila kita melihat satu contoh kecil saja, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1 juta
    hadits, lalu kemana hadits hadits itu?, Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad
    haditsnya hanya tertuliskan hingga hadits no.27.688, maka kira kira 970 ribu hadits
    yang dihafalnya itu tak sempat ditulis…! Lalu bagaimana dengan ratusan Imam dan
    Huffadh lainnya?, lalu logika kita, berapa juta hadits yang sirna dan tak sempat
    tertuliskan?, mengapa?
    Tentunya dimasa itu tak semudah sekarang, kitab mereka itu ditulis tangan, bayangkan
    saja seorang Imam besar yang menghadapi ribuan murid2nya, menghadapi ratusan
    pertanyaan setiap harinya, banyak beribadah dimalam hari, harus pula menyempatkan
    waktu menulis hadits dengan pena bulu ayam dengan tinta cair ditengah redupnya
    cahaya lilin atau lentera, atau hadits hadits itu ditulis oleh murid2nya dengan mungkin
    10 hadits yang ia dengar hanya hafal 1 atau 2 hadits saja karena setiap hadits menjadi
    sangat panjang bila dengan riwayat sanad, hukum sanad, dan mustanadnya.
    Bayangkan betapa sulitnya perluasan ilmu saat itu, mereka tak ada surat kabar, tak
    ada telepon, tak ada internet, bahkan barangkali pos jasa surat pun belum ada, tak ada
    pula percetakan buku, fotocopy atau buku yang diperjualbelikan.
    Penyebaran ilmu dimasa itu adalah dengan ucapan dari guru kepada muridnya
    (talaqqiy), dan saat itu buku hanyalah 1% saja atau kurang dibanding ilmu yang ada
    pada mereka.
    Lalu murid mereka mungkin tak mampu menghafal hadits seperti gurunya, namun
    paling tidak ia melihat tingkah laku gurunya, dan mereka itu adalah kaum shalihin, suci
    dari kejahatan syariah, karena di masa itu seorang yang menyeleweng dari syariah
    akan segera diketahui karena banyaknya ulama.
    Oleh sebab itu sanad guru jauh lebih kuat daripada pedoman buku, karena guru itu
    berjumpa dengan gurunya, melihat gurunya, menyaksikan ibadahnya, sebagaimana
    ibadah yang tertulis di buku, mereka tak hanya membaca, tapi melihat langsung dari
    gurunya, maka selayaknya kita tidak berguru kepada sembarang guru, kita mesti
    selektif dalam mencari guru, karena bila gurumu salah maka ibadahmu salah pula.
    Maka hendaknya kita memilih guru yang mempunyai sanad silsilah guru, yaitu ia
    mempunyai riwayat guru guru yang bersambung hingga Rasul saw.
    Hingga kini kita ahlussunnah waljamaah lebih berpegang kepada silsilah guru daripada
    buku buku, walaupun kita masih merujuk pada buku dan kitab, namun kita tak berpedoman penuh pada buku semata, kita berpedoman kepada guru guru yang
    bersambung sanadnya kepada Nabi saw, ataupun kita berpegang pada buku yang
    penulisnya mempunyai sanad guru hingga nabi saw.
    Maka bila misalnya kita menemukan ucapan Imam Syafii, dan Imam Syafii tak
    sebutkan dalilnya, apakah kita mendustakannya?, cukuplah sosok Imam Syafii yang
    demikian mulia dan tinggi pemahaman ilmu syariahnya, lalu ucapan fatwa fatwanya itu
    diteliti dan dilewati oleh ratusan murid2nya dan ratusan Imam sesudah beliau, maka itu
    sebagai dalil atas jawabannya bahwa ia mustahil mengada ada dan membuat buat
    hukum semaunya.
    Maka muncullah dimasa kini pendapat pendapat dari beberapa saudara kita yang
    membaca satu dua buku, lalu berfatwa bahwa ucapan Imam Syafii Dhoif, ucapan Imam
    hakim dhoif, hadits ini munkar, hadits itu palsu, hadits ini batil, hadits itu mardud, atau
    berfatwa dengan semaunya dan fatwa fatwa mereka itu tak ada para Imam dan
    Muhaddits yang menelusurinya sebagaimana Imam imam terdahulu yang bila fatwanya
    salah maka sudah diluruskan oleh imam imam berikutnya.
    Sebagaimana berkata Imam Syafii : “Orang yang belajar ilmu tanpa sanad guru
    bagaikan orang yang mengumpulkan kayu baker digelapnya malam, ia membawa
    pengikat kayu bakar yang terdapat padanya ular berbisa dan ia tak tahu” (Faidhul
    Qadir juz 1 hal 433), berkata pula Imam Atsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin,
    maka bila kau tak punya senjata maka dengan apa kau akan berperang?”, berkata pula
    Imam Ibnul Mubarak : “Pelajar ilmu yang tak punya sanad bagaikan penaik atap namun
    tak punya tangganya, sungguh telah Allah muliakan ummat ini dengan sanad” (Faidhul
    Qadir juz 1 hal 433)
    Semakin dangkal ilmu seseorang, maka tentunya ia semakin mudah berfatwa dan
    menghukumi, semakin ahli dan tingginya ilmu seseorang, maka semakin ia berhati hati
    dalam berfatwa dan tidak ceroboh dalam menghukumi.
    Maka fahamlah kita, bahwa mereka mereka yang segera menafikan / menghapus
    hadits dhoif maka mereka itulah yang dangkal pemahaman haditsnya, mereka tak tahu
    mana hadits dhoif yang palsu dan mana hadits dhoif yang masih tsiqah untuk
    diamalkan, contohnya hadits dhoif yang periwayatnya maqthu’ (terputus), maka
    dihukumi dhoif, tapi makna haditsnya misalnya keutamaan suatu amal, maka para
    Muhaddits akan melihat para perawinya, bila para perawinya orang orang yang shahih,
    tsiqah, apalagi ulama hadits, maka hadits itu diterima walau tetap dhoif, namun boleh
    diamalkan karena perawinya orang orang terpercaya, Cuma satu saja yang hilang, dan
    yang lainnya diakui kejujurannya, maka mustahil mereka dusta atas hadits Rasul saw,
    namun tetap dihukumi dhoif, dan masih banyak lagi contoh contoh lainnya,
    Masya Allah dari gelapnya kebodohan.. sebagaimana ucapan para ulama salaf :
    “dalam kebodohan itu adalah kematian sebelum kematian, dan tubuh mereka telah
    terkubur (oleh dosa dan kebodohan) sebelum dikuburkan”.
    Walillahittaufiq

    dari buku: KENALILAH AQIDAHMU oleh Habib Munzir

Leave a Reply