Blusukan Kampung | Mulai Hotel Mesum Sampai Kampung Soekarno

Siapa yang tahu ada kampung di tengah-tengah ramainya kota metropolitan Surabaya. Yah Rusa juga baru tahu kampung-kampung itu saat mengikuti Blusukan Kampung yang diadakan oleh Camp on Kampung Refugees of Future Cities kemaren 7/5 yang dimulai dari berkumpul di Balai Kesenian Jawa Timur Cak Durasim jam 14,00 WIB. Refugees of Future Cities ini adalah sebuah pameran grafis, instalasi, dan seni kontemporer lain yang bertema urban yang diselenggarakan oleh Orange House Studio.

Bus tua berumur 30-an tahun yang mengantar keliling kampung

Nah dalam Blusukan Kampung ini Rusa beserta teman-teman yang bertemu di Social Media, mengunjungi 3 kampung yang masih ada di tengah-tengah kota Surabaya. Yuk simak 3 kampung yang masih ada di Surabaya ini!

Kampung Tambak Bayan

Kampung pertama yang kita kunjungi adalah kampung yang kebanyakan warganya adalah etnis Tionghoa, Tambak Bayan. Kampung ini ada di dekat jl Kramat Gantung, kalau dari Tugu Pahlawan tinggal nyebrang saja. Kampung ini memprihatinkan karena warganya bersengkata dengan pemilik hotel Vini Vidi Vici (V3) yang juga berdiri kokoh di tengah-tengah kampung itu.

Pintu masuk Kampung Tambak Bayan

Hotel Vini Vidi Vici (V3), Hotel Mesum yang dimaksud

Dari situlah Rusa mengetahui kenapa saat masuk ke kampung ini langsung bertuliskan spanduk “Anda Memasuki Kawasan Hotel Mesum dan Tanah Sengketa Warga”. Awalnya mau pingsan sih, tapi setelah mendapatkan penjelasan mengenai sengketa warga dan pihak hotel V3, Rusa jadi tahu.  Sekarang bayangkan sendiri hotel ini berada di dalam kota, yang aksesnya sangat masuk ke dalam, dengan bukan di pinggir ke ramaian kota. Mungkinkah label “mesum” yang diberikan warga salah? Bayangkan sendiri saja ya, Rusa gak berani! hehe.

Keluar dari hotel, akan mendapati spanduk seperti ini

Kampung ini unik karena bagungan-bangunan tua peninggalan Belanda masih ada, bahkan di situ juga ada sumur yang katanya nyambung entah kalau gak salah ke dalam ruang bawah tanah Polda Jatim. Diketahui nenek moyang warga kampung ini berimigrasi dari Guangdong China. Dan kini telah memiliki keturuan hingga 3 generasi.

Salah satu rumah peninggalan Belanda, masih ditempati

Dalam rumah ini katanya angker loh

Kalau kalian peduali sama warga Tambak Bayan, silahkan bergabung dengan gerakan Suara Tambak Bayan di Facebook. Sampai tulisan ini diposting, yang bergabung baru 82 orang. Sepertinya kurang publikasi, yuk sebarkan!

Bersama warga Tambak Bayan

Kampung Lemah Putro

Kampung kedua yang Rusa kunjungi bersama teman-teman ini, adalah kampung yang letaknya ada di antara Jalan Basuki Rachmad dan Panglima Sudirman. Rusa juga baru tahu, ada kampung di belakang gedung-gedung tinggi di pusat kota ini. Kalo kalian pernah ke Tunjungan Plaza, tak jauh koq dari situ. Sama halnya dengan kampung Tambak Bayan, kampung ini juga sebenernya memprihatinkan. Karena lokasinya yang memang berada di tengah pusat kota, kampung ini jadi inceran orang yang punya kepentingan industi agar bisa mendirikan gedung di situ, dan menggusur warga yang tingal di situ. Merugikan warga yang sudah tinggal di situ, sepertinya akan terjadi. Seperti halnya terjadi pada kampung Tambak Bayan. Kabarnya sih warga Lemah Putro bersengketa dengan Hotel Elmi, yang konon melibatkan Hayono Isman, mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga dan sekarang anggota DPRRI dari Partai Demokrat, seperti Rusa kutip dari tulisan Pry Supriyadi di Kompasiana.

Rumah tua dan gedung pencangkar langit

salah satu sudut di kampung Lemah Putro

Saat di Lemah Putro, Rusa dan teman-teman malah disuguhi gorengan oleh warga, yah nuansa keramahan kampung memang tetap terasa ya walaw berada ditengah-tengah ramainya kota.

Bersama warga Lemah Putro

Kampung Plampitan

Kampung ini adalah kampung terakhir, juga lokasi dimana pameran ini berada. Kampung ini bahkan dibilang kampung ideal, karena dulunya juga merupakan kampung di mana Presiden Pertama kita tinggal. Bahkan selain itu, di kampung ini juga banyak terdapat bagungan cagar budaya seperti Masjid Peneleh, Makam Belanda kediaman Roeslan Abdul Gani, mantan Menlu Indonesia.

Kampung Plampitan

Salah satu rumah di kampung Plampitan

1931, wew lama juga ya

Melihat 3 kampung yang masih ada di tengah kota Surabaya, sangat disayangkan ya kalau kampung-kampung itu tergusur oleh kepentingan industrial. Menyedihkan kalau sampai warga yang sudah lama tinggal di kampung-kampung itu harus tersingkir dan terintimidasi oleh kepentingan industrial yang pastinya akan merugikan warga di situ (aduh berat ya bahasanya) hehe.

Share yuuk..
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

54 Comments - Add Comment

Reply


six − = 5