Adaptasi Novel ke Film Menurut Imam Tantowi
By rusabawean on Jun 1, 2009 in Film
Oleh-Oleh Workshop dan Temu Bintang Ketika Cinta Bertasbih.
Kemaren (30/5) saya sempat mengikuti workshop yang digelar mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, di Gedung Self Acces Center (SAC) IAIN Sunan Ampel. Dalam workshop tersebut, ada 2 pembicara, Chaerul Umam sebagai Sutradara film Ketika Cinta Bertasbih dan Imam Tantowi sebagai penulis skenario film Ketika Cinta Bertasbih. Karena yang menarik hanya apa yang dibahas oleh Imam Tantowi, maka dalam tulisan ini saya hanya mau membahas apa yang telah dijelaskan oleh beliau, tentang bagaimana cara mengadaptasi sebuah novel menjadi skenario film yang bagus.
Menurut Imam Tantowi, sebelum menulis skenario ada 7 pertanyaan pokok yang harus dijawab, yaitu:
- siapa satu tokoh utamanya
- apa yang menjadi masalah utama dari 1 tokoh utamanya
- apa saja yang selalu berusaha menghambat pencapaian tokoh utamanya
- bagaimana pada akhirnya tokoh utama dalam mencapai gol/keinginannya. Semakin unik caranya akan lebih semakin menarik
- apa yang ingin dicapai pada ending cerita
- bagaimana anda mengisahkannya apa yang ingin dicapai tokoh utamanya
- bagaimana perkembangan tokoh utama dan tokoh pendukung.
Imam Tantowi juga menjelaskan bahwa adaptasi bukanlah transkripsi dari bentuk novel ke dalam bentuk skenario, adaptasi adalah interpretasi dari sebuah cerita novel. Yang harus diperhatikan oleh penulis skeario haruslah melengkapi apa yang dibutuhkan nivel itu agar menjadi yang lebih bagus. Sebuah skenario adaptasi dari novel dianggap berhasil, kalau skenario itu sukses menangkap ruh dan essensi cerita serta jiwa dari novel aslinya.
Penulis novel pasti memiliki misi, pesan esensial yang mau disampaikan kepada khalayak pembaca. Ketika misi dari filmnya melenceng, atau malah bertolak belakang, maka adaptasi itu gagal menangkap ruh dan esensi novelnya, dan penggemar novel yang fanatis akan marah. Karena filmnya dianggap jauh berbeda dengan novel. Karena penulis skenario dan sutradara adalah juga seorang kreator, maka bisa terjadi novel yang sarat dengan dakwah, begitu menjadi film bisa dibalik menjadi anti dakwah, mungkin karena pebulis skenario dan sutradara tidak bisa menangkap misi dari novel. Atau mungkin sengaja melencengkan pesan novel tersebut, demi kepentingan tertentu.
Banyak sekali skenario adaptasi yang penyajiannya berbeda dengan novelnya, seperti The Godfather karya Mario Puzo. Film jauh lebih bagus melampaui novelnya sendiri. Skenario untuk film ditulis oleh Mario Puzo sendiri bersama sutradara, Francis Ford Coppola. Karena Mario Puzo sangat tahu apa yang paling esensial dari ceritanya, sementara Capollo sangat tahu bagian-bagian yang paling dramatik dari novel yang dibacanya. sebaliknya film The Lord of the Rings, untuk mendapatkan ruh, esendi serta jiwa dari novelnya, adaptasi untuk skenario film justru hampir seperti novel aslinya.

dari kanan: Chaerul Umam, Imam Tantowi dan Moderator
Yang penting dilakukan dalam adaptasi sebuah novel keskenario film, kemampuan memilah mana yang penting untuk cerita, dan mana yang sekedar bunga. Mana plot utama dan mana yang hanya cabang. jangan sampai plot cabang mengganggu plot intinya. Segera tentukan siapa protagonis, dan siapa tokoh antagonisnya. Lalu sebaiknya cerita berjalanmengikuti sang protagonis. Prinsipnya hanya ada satu protagonis yang menjadi alur cerita. Kalau terjadi ada alur kembar, penonton akan bingung. kemudian persiapkanlah perubahan demi perubahan tokoh utama dan tokoh pendukung dengan progres yang mencepat sampai mencapai klimak, sambil memberikan ruang kepada penonton untuk menduga-duga. Jika semakin banyak penonton yang salah duga tergadap tokoh pendukung, akan semakin menarik.






















Kalau baca novelnya sepertinya filmnya bakalan OK kalau di tonton….
buJaNG | Jun 2, 2009 | Reply
Hihihihi,…. bingung mau kasih koment apaan….
BIasanya nanti antar novel dan filmnya bakalan laebih maknyuzzz novelnya…
mamas86 | Jun 2, 2009 | Reply
ditunggu filmnya yaaa.. pasti novelnya lebih seru de..
shanty | Jun 2, 2009 | Reply
Semoga filmnya gak mengecewakan terutama bagi yang sudah membaca novelnya…
jack | Jun 2, 2009 | Reply
Kalau aku gak pernah baca novel jadi gak tau deh tuh film dari novel ato bukan. tapi kalau ada film yg di angkat dari buku komik pasti aku paham hehehehe
edylaw | Jun 2, 2009 | Reply
Baru sempet kunjung lagi bos. bentar lagi filmnya mulai tayang tuh. Ditunggu resensinya
Blognya tambaaah kereeeen, muantap mas
Ravatar 'cerita panas' | Jun 2, 2009 | Reply
wadow… sayangnya saya ga gitu suka dengan film atau novel religi…hehehe…
fraders | Jun 2, 2009 | Reply
saya suka film adaptasi LOTR keren buanget itu film…
bodrox | Jun 2, 2009 | Reply
Kayaknya Filmnya bakalan 180o dengan AAC coz yang ini lebih fokus pembahasannya!
M. Surya Iksanudin | Jun 2, 2009 | Reply
apa karena karena baca novel pikiran kita liar sementara kalo nonton pilem ya cuman itu ada nya ya?
suwung | Jun 2, 2009 | Reply
semoga saja filmnya asyik..
manusiahero | Jun 2, 2009 | Reply
novelx bguss..
tpi dari yg udah2..dari dlu..tiap kali ad novel yg dipilemin psti ad yg ‘kurang’..mudah2 yg ini ga..
soalx novelx ajahh ampe 2..
chie | Jun 2, 2009 | Reply
saya nunggu pisidi ori nya ajah deh
tipis | Jun 2, 2009 | Reply
halo numpang lewat sambil kenalan nih….
Fetra | Jun 2, 2009 | Reply
weh ini blog yg lain yak..:D baru nyadar dot kom
cebong ipiet | Jun 3, 2009 | Reply
hmmm, jadi intinya adaptasi ya pak ?
rayearth2601 | Jun 3, 2009 | Reply
Menurut pengalaman saia :
Film yg di angkat dari novel emang asik. tp masih asikan baca novel nya…
seperti film ayat2 cinta. banyak yg tidak sesuai dengan novelnya
btw salam kenal
wahyu ¢ wasaka | Jun 3, 2009 | Reply
asal penggarapannya lebih serius kayak laskar pelangi sih oke… tapi klo asal asalan kyk ayat ayat cinta.. bisa merusak citra perfilman indonesia tuh… masak background film cmn wallpaper padang pasir dikasih animasi burung terbang [ yg di ayat ayat cinta] itukan pembohongan publik.. kcuali kontex filmnya memang film animasi..
alimasadi | Jun 3, 2009 | Reply
boleh tuker link bos..
alimasadi | Jun 3, 2009 | Reply
Yaah, memang sih, biasanya suka berat sebelah, maksudnya, kadang film yg diangkat dari novel bisa lebih bagus dari novelnya, atau malah sebaliknya, lebih bagus novelnya ketimbang versi filmnya
artikel kesehatan | Jun 3, 2009 | Reply
Wah…yang aku ngerti sih cuma nontonnya aja…sisanya seh gak gitu dipikirin…hehehehe
Septian | Jun 3, 2009 | Reply