7 Kebiasaan Unik Orang Bawean

Orang Bawean, atau Boyan biasa masyarakat Malaysia dan Singapura memanggilnya, memiliki banyak kebiasaan unik yang dilakukan setiap hari. Mereka yang tinggal di pulau kecil di tengah-tengah laut Jawa ini memang punya perbedaan yang cukup mengagumkan dibanding daerah lain. Belum lagi karena tidak begitu besar, membuat pulau dengan luas 194,11 km2 ini jadi sangat unik, termasuk budayanya.

Mereka tidak primitif, bahkan bisa dibilang peradabannya sudah yang sangat maju. Tapi orang Bawean sangat berpegang teguh pada warisan leluhur mereka. Maka dari itu, ada beberapa kebiasaan-kebiasaan yang terlihat lucu, kalau dilihat dari kacamata jaman sekarang.

Nah, apa saja kebiasaan-kebiasaan tersebut? Ini dia Rusa sudah rangkum 8 kebiasaan unik orang Bawean:

 1. Nongkrong di Dhurung

Dhurung adalah tempat semacam gazebo, yang letaknya selalu di depan rumah. Di Bawean jarang ditemukan cafe atau warung kopi, mereka biasa nongkrong di kampungnya masing-masing yaitu di dhurung tersebut. Sebagian besar masyarakat Bawean, mempunyai dhurung ini di depan rumahnya.

Ini contoh dhurung tradisional yang masih ada lumbung padinya di bagian atap

Ini contoh dhurung tradisional yang masih ada lumbung padinya di bagian atap

Seperti inilah yang biasa dilakukan di dhurung, duduk-duduk santai.. (Pic by @ChyBlnPurnama)

Seperti inilah yang biasa dilakukan di dhurung, duduk-duduk santai.. (Pic by @ChyBlnPurnama)

Aktivitas yang biasa dilakukan di dhurung bermacam-macam. Ada main domino, main kartu, rujaan, main catur hingga sekedar bergosip ria buat para perempuan. Dhurung juga merupakan tempat bersilaturrahmi orang-orang se-kampung.

Ini dhurung yang sudah modern, tidak terdapat lumbung padi di bagian atap

Ini dhurung yang sudah modern, tidak terdapat lumbung padi di bagian atap

Orang Bawean punya kebiasaan setiap hari nongkong di dhurung. Selain ke sawah atau laut, biasanya kalau lagi santai, waktu dihabiskan di tempat yang atapya berfungsi sebagai lumbung padi ini.

2. Menabur Koin untuk Selamatan Rumah

Orang Bawean mempunyai kebiasaan unik untuk selamatan rumah yang baru dibangun. Salah satu yang termasuk dalam rangkaian selamatannya adalah menabur koin di depan rumah. Anak-anak kecil akan dikumpulkan di depan rumah yang baru saja dibangun, pada siang hari. Setelah itu tuan rumah akan melemparkan ratusan ribu koin dan anak-anak kecil akan rebutan koin tersebut. Alasannya adalah agar rumah yang dibangun membawa barokah.

Mungkin terkesan agak tidak biasa, tapi tak membuat anak-anak Bawean terbiasa jadi peminta-minta seperti ketika mereka kecil yang secara rakus rebutan koin saat ada selamatan rumah di kampungnya. Budaya ini biasa disebut arangan pesse oleh orang Bawean. Selain untuk selamatan rumah, arangan pesse juga biasa ditemui untuk syukuran pernikahan atau untuk membayar nadzar.

3. Nyoon 

Nyoon ini adalah aktivitas mengangkut barang, di mana barang yang diangkut ditaruh di atas kepala. Tapi, hanya perempuan yang punya kebiasaan ini. Barang-barang yang diangkut seperti ini adalah alat-alat rumah tangga, kayu bakar, hasil tani dan ladang, bahkan air yang diambil dari mata airnya langsung.

Nyoon adalah bukti bahwa perempuan Bawean sangat kuat dan perkasa. Mereka tidak lemah, bahkan bisa saling membantu dengan kaum laki-laki yang juga lebih banyak melakukan urusan mata pencaharian keluarga.

4. Ketika Ada Kerabat yang ke Luar Pulau, Diantar Oleh Masyarakat Se-Kampung

Tradisi orang Bawean yang suka merantau membuat mereka harus bolak-balik ke luar pulau. Nah uniknya adalah ketika ada salah satu kerabat yang akan meninggalkan Bawean dalam waktu yang cukup lama, baik untuk melanjutkan pendidikan atau untuk merantau mencari nafkah biasanya akan diantar oleh orang se-kampung hingga ke dermaga/pelabuhan Bawean.

Di Bawean gak anada angkot, adanya kayak begini yang biasa nganter penduduk ke pasar atau yang biasa dicarter buat ke pelabuhan

Di Bawean gak ada angkot, adanya kayak begini yang biasa dicarter buat ke pelabuhan

Sebenarnya gak sekampung juga sih, tapi karena kampung-kampung di Bawean itu kecil, dan mereka rata-rata adalah kerabat dekat, jadinya otomatis bisa dibilang sekampung. Yak kira-kira hitungannya adalah 1 atau 2 angkot dan beberapa motor, untuk 1 keluarga yang akan berlayar ke Jawa.

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah ngater-ngateraken. Dan ngater-ngateraken ini biasanya menjadi ajang untuk jalan-jalan buat anak-anak kecil.

5. Keliling Bawean Setelah Lebaran

Biasanya kebiasaan ini terjadi di H+2 hingga seminggu setelah lebaran. Keliling Bawean atau medher biasa orang-orang Bawean menyebut, adalah budaya di mana mengunjungi tempat-tempat wisata di Bawean dalam sehari. Walau tidak semua tempat wisata dikunjungi, tapi kebiasaan ini memang membawa orang untuk melewati seluruh jalan lingkar di Pulau Bawean. Jadilah disebut keliling Bawean.

Keliling Bawean memang lebih seru rame-rame seperti ini

Keliling Bawean memang lebih seru rame-rame seperti ini

Keliling Bawean ini juga menjadi ajang silaturrohmi kepada keluarganya yang jauh dari kampung mereka. Jadi sambil jalan-jalan, ada juga yang sambil mampir silaturrahmi. Selain itu keliling Bawean akan membawa orang untuk bisa bertemu teman lama yang sudah lama lepas kotak, yang saat itu kebetulan sedang mudik ke Bawean.  Ketemu teman lama saat medher selalu menjadi kejutan.

6. Kunci Motor yang Tak Pernah Lepas

“Ngapain kucinya dilepas, kayak di Jawa aja,” seru seorang teman ketika Rusa melepaskan kontak motor saat parkir di depan rumahnya. Rusa malu karena norak melepas kunci motor. Yak di Bawean orang-orang jarang melepas kunci motornya ketika main. Kecuali jika memang mereka tidak begitu kenal dengan tempat yang dikunjungi. Bahkan ketika diparkir di rumah, kunci diambil hanya untuk menghindari takut ada orang gila yang akan bawa motor, bukan karena maling.

Contoh motor yang kuncinya dibiarin masih nempel, walau di pinggir jalan

Contoh motor yang kuncinya dibiarin masih nempel, walau di pinggir jalan

Benar saja, karena di Bawean motor curian itu memang sulit untuk bisa keluar pulau. Sedangkan jika digunakan masih di Bawean, sangat gampang utuk diketahui. Hal ini yang membuat pencurian motor sangat jarang terjadi.

7. Memakai Baju Kurung dan Koko Melayu

Karena orang Bawean begitu dekat dengan Malaysia dan Singapura secara emosional, hal ini tak sedikit budaya melayu juga dekat dengan orang Bawean. Paling tidak adalah Pakaian Melayu ala Malaysia dan Singapura yang juga sering dipakai orang Bawean. Banyaknya kerabat meraka yang tinggal di 2 negara tetangga tersebut membuat tak sedikit barang-barang khas melayu itu banyak ditemui di Bawean. Begitu pun sebaliknya.

Hendaklah hendak hendak kurasa duhai sayang.. Kata Siti Nurhaliza (Pic by @maharsii)

Hendaklah hendak hendak kurasa duhai sayang.. Kata Siti Nurhaliza (Pic by @maharsii)

Baju kurung juga dipakai orang Bawean saat menghadiri acara-acara selamatan atau lainnya (Pic by @ChyBlnPurnama)

Baju kurung juga dipakai orang Bawean saat menghadiri acara-acara selamatan atau lainnya (Pic by @ChyBlnPurnama)

Jika waktu sholat Jumat, tak sedikit laki-laki Bawean yang memakai baju koko Malaysia ketika ke masjid. Baju koko dengan kain mengkilap warna warni ngejreng tersebut memenuhi masjid-masjid di Bawean. Begitu pun, biasanya di sore hari, akan banyak perempuan Bawean yang memakai baju kurung, model baju yang biasa dipakai penyanyi terkenal Siti Nurhaliza tersebut. Ketika lebaran? Seperti melihat Malaysia di Bawean, 2 pakaian khas melayu itu banyak ditemui dari para kerabat mereka yang sedang mudik dari negara singa dan negerinya Upin Ipin tersebut.

Catatan: Akan diupdate berikutnya untuk semua foto ilustrasi yang belum ada.

Share yuuk..
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on TumblrEmail this to someone

27 Comments - Add Comment

Reply

Leave a Reply to eko sarwono Cancel reply


+ seven = 8